Hari ini resmi satu minggu
saya menempati lokasi kantor yang baru, dimana pagi ini adalah kali pertama
saya terlambat tiba. Kantor saya dulunya berada di kawasan Kuningan,
kini berpindah ke kawasan Kelapa Gading. Ya, jarak tempuh yang mesti saya
lewati tiap harinya menjadi bertambah. Dari 8 km menjadi 26 km (hitungan
berdasarkan Google Maps). Belum lagi kepadatan jalanan yang mesti dilewati juga
bertambah. Apalagi? Jam masuk kantor yang biasanya pukul 9 menjadi pukul 8.
*mbrebes mili*
Bagi saya pribadi, idealnya
jarak antara rumah dan kantor tak lebih dari 10 km. Sedikit tambahan dari Joni
lewat diskusi di twitter tempo hari, ”atau tidak lebih dari 30 menit
berkendara”. Dihadapkan dengan kenyataan begini, saya pastinya terpikir untuk
mencari kosan agar lebih dekat dengan kantor. Jadi menjelang pindah kantor,
saya sudah mulai browsing kos-kosan.
Mengekos atau pergi-pulang?
Pilihan yang sulit. Ada banyak
hal yang perlu saya pertimbangkan.
Mengekos
(+) Hemat waktu
(+) Bisa lari pagi dulu
sebelum ngantor
(-) Pengeluaran tambahan untuk
sewa kos
(-) Masih mesti ngangkot lagi
(-) Jauh kemana-mana (hidup
saya tak sekadar antara rumah dan kantor. Banyak yang ingin saya lakukan di
luar sana)
Pergi-pulang
(+) Kalau habis main,
pulangnya ga jauh (ya namanya juga anak selatan)
(+) Ga keluar duit buat ngekos
(+) Apa-apa ada di rumah
(-) Jadi ga bisa lari pagi
(-) Betis pegel berjam-jam
berdiri di dalam bus
(-) Sampai di rumah/kantor
udah capek banget
Kurang lebih begitu dan setelah
seminggu dilewati rasanya... ’huft’. Dari estimasi saya, mestinya
pukul 6 saya sudah berangkat. Namun, di hari pertama saya malah terbangun di
pukul 6. Kali itu saya bergegas mandi tanpa keramas dan memutuskan untuk naik
bus dari Bunderan Slipi. Setelah setengah jam menunggu dan tidak ada tanda-tanda
bus yang saya nanti itu akan lewat, saya memutuskan naik taksi. Dan tadaaa..
waktu tempuh yang diperlukan hanya setengah jam untuk sampai kantor! Sempat
terpikirkan oleh saya untuk kursus menyetir agar diperbolehkan membawa mobil.
Tapi kemudian saya tersadar, apa guna saya menjadi vegetarian dan koar-koar
soal green living kalau saya malah menambah carbon footprint? *bathin seorang kelas menengah
ngehe*
Pulang kantor hari pertama,
saya mencoba satu nomor bus yang berbeda dari yang paginya saya ingin naiki.
Dasar bebal, saya tidak mengacuhkan saran seorang teman dan tetap menjalankan
rencana saya. Kalau diceritakan akan sangat panjang, yang intinya sore itu saya
menghabiskan waktu 3 jam di dalam perjalanan.
Setelah berbagai trial and
error, akhirnya saya menemukan kombinasi transportasi umum yang rada manusiawi (ukuran
Jakarta) untuk rute rumah-kantor-rumah. Eh sebentar, total perjalanan 4-4,5 jam
PP itu manusiawi, kan? HAHAHAHAHAHAAA saya ga bercanda, kok. Ya abis, tempat
main saya mayoritas di Jaksel. Agenda lari malam di GBK juga ga bisa diabaikan,
karena tahun ini banyak race ’serius’ yang akan saya ikuti dan butuh latian
yang tidak hanya sekadarnya.
Kemudian saya menemukan quote di pinterest yang berbunyi:
”If you don’t like where you are, move. You’re not a tree.” Lalu saya berpikir
untuk mulai mencari pekerjaan baru. Kemudian berkhayal, akan sangat
menyenangkan ya, kalau bisa ketemu kantor yang pekerjaannya bisa dilakukan dari
mana saja? Ke kantornya sesekali aja gitu. Ya ya ya, suruh bapak saya aja yang
bikin kantor.
Baiklah. Jangan sampai jauhnya
kantor mengganggu jadwal rutin lari. By the way, ada yang mau menawari saya kerjaan?
Atau menawari jodoh?
#pffft
Tidak ada komentar:
Posting Komentar