8 April 2014

You're Not A Tree, K



Hari ini resmi satu minggu saya menempati lokasi kantor yang baru, dimana pagi ini adalah kali pertama saya terlambat tiba. Kantor saya dulunya berada di kawasan Kuningan, kini berpindah ke kawasan Kelapa Gading. Ya, jarak tempuh yang mesti saya lewati tiap harinya menjadi bertambah. Dari 8 km menjadi 26 km (hitungan berdasarkan Google Maps). Belum lagi kepadatan jalanan yang mesti dilewati juga bertambah. Apalagi? Jam masuk kantor yang biasanya pukul 9 menjadi pukul 8.

*mbrebes mili*

Bagi saya pribadi, idealnya jarak antara rumah dan kantor tak lebih dari 10 km. Sedikit tambahan dari Joni lewat diskusi di twitter tempo hari, ”atau tidak lebih dari 30 menit berkendara”. Dihadapkan dengan kenyataan begini, saya pastinya terpikir untuk mencari kosan agar lebih dekat dengan kantor. Jadi menjelang pindah kantor, saya sudah mulai browsing kos-kosan.

Mengekos atau pergi-pulang?

Pilihan yang sulit. Ada banyak hal yang perlu saya pertimbangkan.

Mengekos
(+) Hemat waktu
(+) Bisa lari pagi dulu sebelum ngantor

(-) Pengeluaran tambahan untuk sewa kos
(-) Masih mesti ngangkot lagi
(-) Jauh kemana-mana (hidup saya tak sekadar antara rumah dan kantor. Banyak yang ingin saya lakukan di luar sana)

Pergi-pulang
(+) Kalau habis main, pulangnya ga jauh (ya namanya juga anak selatan)
(+) Ga keluar duit buat ngekos
(+) Apa-apa ada di rumah

(-) Jadi ga bisa lari pagi
(-) Betis pegel berjam-jam berdiri di dalam bus
(-) Sampai di rumah/kantor udah capek banget

Kurang lebih begitu dan setelah seminggu dilewati rasanya... huft’. Dari estimasi saya, mestinya pukul 6 saya sudah berangkat. Namun, di hari pertama saya malah terbangun di pukul 6. Kali itu saya bergegas mandi tanpa keramas dan memutuskan untuk naik bus dari Bunderan Slipi. Setelah setengah jam menunggu dan tidak ada tanda-tanda bus yang saya nanti itu akan lewat, saya memutuskan naik taksi. Dan tadaaa.. waktu tempuh yang diperlukan hanya setengah jam untuk sampai kantor! Sempat terpikirkan oleh saya untuk kursus menyetir agar diperbolehkan membawa mobil. Tapi kemudian saya tersadar, apa guna saya menjadi vegetarian dan koar-koar soal green living kalau saya malah menambah carbon footprint? *bathin seorang kelas menengah ngehe*

Pulang kantor hari pertama, saya mencoba satu nomor bus yang berbeda dari yang paginya saya ingin naiki. Dasar bebal, saya tidak mengacuhkan saran seorang teman dan tetap menjalankan rencana saya. Kalau diceritakan akan sangat panjang, yang intinya sore itu saya menghabiskan waktu 3 jam di dalam perjalanan.

Setelah berbagai trial and error, akhirnya saya menemukan kombinasi transportasi umum yang rada manusiawi (ukuran Jakarta) untuk rute rumah-kantor-rumah. Eh sebentar, total perjalanan 4-4,5 jam PP itu manusiawi, kan? HAHAHAHAHAHAAA saya ga bercanda, kok. Ya abis, tempat main saya mayoritas di Jaksel. Agenda lari malam di GBK juga ga bisa diabaikan, karena tahun ini banyak race ’serius’ yang akan saya ikuti dan butuh latian yang tidak hanya sekadarnya.

Kemudian saya menemukan quote di pinterest yang berbunyi: ”If you don’t like where you are, move. You’re not a tree.” Lalu saya berpikir untuk mulai mencari pekerjaan baru. Kemudian berkhayal, akan sangat menyenangkan ya, kalau bisa ketemu kantor yang pekerjaannya bisa dilakukan dari mana saja? Ke kantornya sesekali aja gitu. Ya ya ya, suruh bapak saya aja yang bikin kantor.

Baiklah. Jangan sampai jauhnya kantor mengganggu jadwal rutin lari. By the way, ada yang mau menawari saya kerjaan? Atau menawari jodoh?

#pffft

Tidak ada komentar:

Posting Komentar