14 Maret 2014

Dikurung Asap



Bila pulang kampung bagi sebagian orang adalah hal yang sulit, saya sangat bersyukur karena hingga saat ini masih mendapat ‘jatah’ pesawat dengan rute Jakarta menuju Pekanbaru (dan sebaliknya) dari kantor bokap. Pelita Air Service, dengan pesawat Foker 100 melayani penerbangan setiap hari kecuali rabu dan sabtu. Ya walau ga selalu kebagian sih...

Kamis malam usai berlari di GBK, saya menunda untuk berkemas. Ah, cuma sebentar ini, pikir saya. Jumat pagi barulah saya memasukkan pakaian yang tak seberapa banyak itu ke dalam tas sambil terburu-buru karena mestinya pukul 8 saya sudah harus di bandara untuk go show (because I got lower priority than other passengers and are only located a seat after all passengers with more poins have been allocated seats). Karena bila menunggu taksi lewat akan memakan waktu yang lama, maka saya putuskan untuk naik ojek!



Hikmah tinggal di Indonesia, khususnya Jakarta; ada ojek di banyak pengkolan jalan yang menyelamatkan dari kemacetan.
 
Sesampainya di Bandara Halim Perdana Kusuma, ternyata bukan saya seorang yang go show. Untunglah banyak calon penumpang yang cancel sehingga kami semua yang go show mendapat seat!




Usai pesawat mendarat dengan mulus, saya dan penumpang lainnya bersiap-siap mengambil barang di kabin lalu mengantre untuk turun. Begitu saya berada di pintu pesawat, saya mencium bau yang tidak enak. Saya pikir itu bau yang dikeluarkan dari mesin pesawat. Setelah saya memandang keluar, ternyata kabut menyelimuti langit. Sambil menahan nafas, saya bergegas menuju bus yang akan membawa saya ke bangunan bandara. (Bandara SSQ sedang dalam renovasi sehingga dari gate menuju pesawat memiliki jarak yang cukup jauh dan pihak bandara menyediakan bus untuk mengantarkan penumpang dari dan ke pesawat.)

***

Karena poin saya yang rendah untuk kembali ke Jakarta di hari minggu, maka saya menguji peruntungan dengan go show lagi di hari senin. Suasana masih ramai saat saya tiba di bandara. Entah karena banyak karyawan yang dikirim training ke Pulau Jawa, maka banyak dari kami yang go show ini tidak dapat berangkat. Mestinya hari itu saya harus bekerja, namun karena tidak dapat pesawat sehingga saya kembali izin untuk tidak masuk. Karena tak enak harus berlama-lama izin, saya turun ke lantai di mana terdapat counter penjualan tiket.

Ternyata di sana sudah ramai dan antrian di beberapa counter sangat panjang. Dari hasil nguping saya, ternyata hari itu banyak penerbangan yang dibatalkan dan maskapai penerbangan itu menawarkan refund tiket. Memang di hari minggu saat saya ada urusan di luar rumah, kabut terasa makin pekat dan malamnya alat pengukur indeks kualitas udara di depan kantor walikota menunjukkan level ‘berbahaya’. Saya memutuskan untuk meninggalkan bandara, menuju travel agent langganan nyokap.


Penampakan kantor gubernur dari kejauhan


Sesampainya di sana, langsung saja saya memesan untuk keberangkatan hari selasa. Sebenarnya bisa saja saya membeli untuk penerbangan hari itu juga, namun hanya tersisa untuk penerbangan malam di kelas bisnis dengan harga nyaris dua juta dan bagi saya itu pricey. Baiklah, urusan tiket beres walau terpaksa menambah izin tidak masuk kantor lagi.

Malamnya, saya mendapat sms dari maskapai penerbangan yang saya pesan tadi mengabarkan bahwa tidak ada penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Jreeenggg!!!



***

Selasa pagi saya menelepon call center maskapai tersebut untuk konfirmasi dan mereka menyarankan untuk segera refund atau ganti jadwal. Karena tidak tahu entah sampai kapan tidak ada penerbangan, saya memutuskan untuk refund tiket.

***

Gambar diambil pada hari kamis pukul 10 pagi

Untung kameranya canggih, jadi masih rada kelihatan

Terkadang saya berpikiran bahwa tinggal di Riau, khususnya Pekanbaru (karena saya tidak tahu pasti bagaimana kondisi di kabupaten lain yang berkemungkinan beda), kita mesti jadi orang kaya. Tiap tahun selalu ada kebakaran hutan, sehingga perlu punya dana cadangan ekstra untuk kesehatan; untuk beli masker hingga biaya pengobatan bila terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Lalu tiap musim kemarau, pemadaman listrik tak terelakkan lagi karena kurangnya debit air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Pemadamannya tak pula sebentar, biasa terjadi belasan jam. Mau tak mau, karena kebutuhan akan pasokan listrik tinggi, kita mesti punya genset. Nah dengan kabut asap yang makin menggila ini, yang berada di dalam rumah saja terasa sesak, nyamannya memang bila memiliki AC. Kalau tak punya AC, minimal punya air purifyer.

Bandara ‘lumpuh’. Anak sekolah diliburkan. Di perusahaan tempat bokap kerja, anak dengan usia di bawah 1 tahun dan ibu hamil diungsikan. Puluhan ribu orang terkena ISPA. Porter, supir taksi, dan para pencari nafkah di bandara untuk sementara ‘kehilangan’ pekerjaannya. Saya sendiri tak enak mesti berlama-lama izin dari kantor karena tak bisa segera kembali ke Jakarta. Saya sudah usul untuk berangkat lewat jalur darat, tapi tak mendapat izin dari keluarga.

Rasa-rasanya mengutuk pun percuma. Kalau tak ada tindakan dari pemimpin negara. Ini sudah terjadi sejak lama. Dari jaman saya SD hingga menjadi sarjana.

 
Dan dari sekian banyak kegiatan yang terpaksa saya lewatkan, yang paling menyedihkan adalah: saya tidak bisa berlari seperti biasa! Padahal bulan ini saya ditantang untuk berlari dengan total jarak 300 km dalam 30 hari.



Karena mengeluh tiada berguna, maka akhirnya saya mengisi waktu dengan menghabiskan buku-buku yang belum sempat dibaca serta menikmati kebersamaan dengan teman dan keluarga. Terima kasih atas doa teman-teman di social media. Semoga kondisi Riau dan sekitarnya kembali baik seperti sedia kala. Semoga jarak pandang semakin jauh dan penerbangan kembali dibuka. Semoga yang sakit lekas sehat dan bersuka cita. Semoga yang zalim diampuni dosa-dosanya. Semoga!

1 komentar:

  1. Kepolisian Daerah (Polda) Riau selaku Satuan Tugas (Satgas) Penindakan Kebakaran Lahan dan Hutan masih memburu lima pelaku pembakar lahan yang telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Kapolda Riau Brigjen Pol Condro Kirono kepada pers di Pekanbaru, Senin, sebagaimana dilansir dari portal pengumpul berita iyaa.com mengatakan, "Lima orang DPO dari 62 tersangka yang telah ditetapkan sepanjang lebih empat pekan ini," Data rekapitulasi penegakan hukum Polda Riau menyebutkan, dua diantara DPO tersebut ditangani oleh Polresta Dumai, sementara dua lainnya di wilayah hukum Polres Bengkalis dan satu di Siak.

    BalasHapus