Ehem.
*ketok-ketok microphone*
Jadi begini… sesuai postingan saya yang lalu, saya ingin mengabarkan beberapa hal. Pertama, buku tentang perjalanan yang ditulis oleh saya dan delapan belas perempuan lainnya itu berjudul “Rumah adalah di Mana Pun” dan diterbitkan oleh Grasindo. Kedua, buku tersebut akan hadir di Gramedia mulai tanggal 17 Maret 2014. Ketiga, surprisingly judul buku tersebut merupakan judul tulisan saya di buku tersebut. Boleh senang, ya?
Oh iya, saya mau cerita soal kenapa akhirnya saya memberikan judul itu untuk tulisan saya. Dalam hal tulis-menulis, memberi judul adalah hal terakhir yang saya lakukan setelah membaca ulang dan sedikit menyunting. Bagi saya, memberi judul adalah hal yang paling sulit. Termasuk dalam menulis lirik lagu, banyak yang masih untitled.
Sebagai anak muda yang ‘kekinian’, saya mengekspresikan kebingungan saya lewat twit.
“Bingung mau kasih judul apa.”
Seorang teman kemudian merespon untuk memberi judul “Tanpa Judul”. Tapi rasanya masih kurang greget. Masa semua tulisan saya untitled? Saya kembali merenungkan setiap langkah yang pernah saya lakukan, lalu mengajukan banyak pertanyaan ke diri sendiri. Apa motif saya dalam memutuskan untuk bervakansi selama ini? Mengapa melakukan sebuah perjalanan menjadi begitu penting bagi saya? Dan banyak pertanyaan lainnya.
Sebentar, saya tarik nafas dulu.
Entah karena the power of deadline, tiba-tiba tercetuskan di otak saya judul tersebut (ya, saya penulis yang terakhir mengirimkan tulisan). Begitulah, rumah adalah di mana pun. Di dalam kereta. Di ruang tunggu bandara. Di dalam tenda. Di setiap ruang yang diisi cinta.
Kalau kata ‘King of Convenience’, I no longer where home is.
Saya tarik kesimpulan; ketika kamu tak dapat merasakan cinta, you’re homeless.
Lanjut ngomongin soal buku, setelah menerima desain sampul buku tersebut dari mas editor, saya langsung posting di path. Alhamdulillah responnya positif. Banyak yang kasih hati, euy! (Awas aja kalau sampai ga beli bukunya). Lalu beberapa teman di tengah percakapan santai melemparkan gurauan “Cie, penulis...” Terus terang, ada sedikit rasa minder yang hadir di benak saya. Saya merasa belum pantas disebut travel writer, baik secara jam terbang dalam dunia traveling, juga secara cara bertutur lewat cerita. Bahkan untuk sebutan ‘bla bla bla’ writer. Bagi saya, sebutan ‘penulis’ itu adalah sesuatu yang ‘sakral’. Walau menjadi penulis selalu menjadi cita-cita saya.
![]() |
| Kalau kata Zarry, begini.. |
Kepada calon anakku, Cherie... semoga tahun ini kamu bisa mejeng di toko buku, ya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar