7 Juni 2016

Aku Kembali!




Ya, dua tahun saya membiarkan blog ini hibernasi karena lebih banyak menulis di blog sebelah (sebelah mane?) Rasanya sayang sih, kalau dibiarin 'mati suri'. Jadi, dengan ini saya bangunkan kembali!

Tapi… enaknya ngomongin apa ya di sini?

Mau ngomongin beauty, ‘perkakas’ saya hanya sebatas bedak, gincu, dan eyeliner.
Mau ngomongin traveling, ya ampun… kapan terakhir kali saya bervakansi?
Mau ngomongin…

Ah, sudahlah. Postingan selanjutnya akan random, tergantung suasana hati. Diusahakan bermanfaat buat yang baca.

Sekian postingan sampah kali ini.

See you on the next post!

17 April 2014

Viralnya Sanksi Sosial

Beberapa hari ini media sosial riuh, mulai dari soal tulisannya ZH di tumblr dan dibalas tulisan oleh AD di midjournal, sampai soal si gadis Commuter Line. Baik di twitter maupun di path. Mungkin karena interest teman-teman di path saya terhadap politik tidak begitu tinggi, maka persoalan kedua lah yang menguak.
 

Segalanya bermula dari screen capture, yang entah dari siapa, wara-wiri di timeline twitter. Orang-orang mulai berang, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat kita. Saya sendiri dalam hati miris dan lalu berpikir, ”jangan-jangan masih banyak di antara kita yang belum kenal adab di transportasi umum.”

Men-judge bukan kapasitas saya. Maka di sini saya akan bercerita tentang pengalaman saya saja, dan dengan perspektif saya pribadi. Begini, saya turut memberi komentar karena saya pernah merasakan apa yang si gadis Commuter Line rasakan. Tsaaahhh...

Selisih setengah jam dengan gadis Commuter Line, saya berangkat pukul 05.30. Ongkos ojek dari rumah sekitar lima hingga sepuluh ribu, tapi saya memilih berjalan kaki menuju jalan besar yang dilewati angkot. Dari jalan besar itu menuju Stasiun Depok hanya satu kali naik angkot, namun jarak tempuhnya lebih dari satu jam dan ongkosnya enam ribu. Karena saat itu kantor saya di Jl. Prof. Dr. Satrio, maka saya turun di Stasiun Tebet (kadang juga di Stasiun Sudirman) dengan ongkos tiga ribu lima ratus, lalu menyambung angkot lagi dengan ongkos tiga ribu. Mengapa saya sebut berapa ongkosnya? Ya biar ada bayangan aja kira-kira itu seberapa jauh dan pukul berapa saya dapat tiba di stasiun.


Pengguna kendaraan umum jenis KRL Commuter Line ini saya rasa sudah mafhum dengan kondisi transportasi yang mereka tak punya pilihan lain ini; dengan kesering-terlambatannya. Terang saja begitu kereta datang, mereka langsung menghambur ke dalam walau isinya sudah berjubel manusia sampai-sampai pintu sulit ditutup. Penderitaannya akan terus berlanjut karena setelah berhasil masuk ke dalam, kita akan berdesak-desakan dengan penumpang yang masuk di stasiun berikutnya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara kaum yang mengecap pendidikan tinggi dengan yang tidak. (Hampir) semua sama beringasnya.

Sepanjang perjalanan, bersiaplah mengap-mengap karena AC maupun kipas angin tidak mampu menyediakan udara segar untuk seisi kereta. Kadang-kadang ada penumpang yang membuka jendela karena tak tahan lagi dengan pengapnya udara di dalam. Dorong-dorongan antar penumpang kala itu membuat saya terpaksa menahan badan agar tidak jatuh, dengan tangan yang menekan ke dinding kereta (iya, penumpang yang duduk saya ketiakin). Jadi bisa dibilang pengganti push up di pagi hari.

Dari apa yang saya dan banyak pekerja yang tinggal di (pinggiran) Jakarta alami, ya jelas banyak yang tak senang dengan ungkapan kebencian akan ibu hamil (yang dianggap menyusahkan). Mengutip perkataan teman saya yang laki-laki; ”Hamil itu kasus spesial. Harus dihormati. Perubahan hormon, perubahan fisik, ada sesuatu yang tumbuh di perut; menekan organ-organ di dalamnya, bikin mual dan sesak, serta rentan ancaman nyawa pada janin dan ibu ataupun ancaman perkembangan janin. Dan itu harus dialami 24 x 7 x 30 x 9. Laki-laki pun paham.






Dalam hal ini, warga di media sosial sukses menjadi kontrol sosial, yang walau sejujurnya saya anggap kebanyakan dari kita juga bersikap berlebihan. Beberapa juga malah dengan kreatifnya menjadikannya guyonan.


Dimaafkan ya, teman-teman..

9 April 2014

Tanpa Tinta

Perhatian: Tulisan berikut ini dapat dikategorikan ‘sotoy’ dan pengetahuan penulis yang sangat terbatas serta tanpa keinginan untuk mencari tahu terlebih dahulu.


Akhir bulan januari lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya kecopetan saat berada di dalam bus kota menuju kantor. Hal yang menyebalkan dari kejadian itu adalah pengurusan kartu-kartu yang hilang. Untuk kartu atm dan kartu kredit langsung saya blokir. Untuk sementara, saya lupa ada kartu apalagi yang ada di dalam dompet saat itu. Dan saya sangat berterima kasih sekali kepada kemampuan otak saya dalam mengingat 16 digit NIK (Nomor Induk Kependudukan) sehingga saat membuat surat keterangan hilang di kantor polisi, tidak ada kendala.

Masalah sesungguhnya adalah, KTP saya adalah KTP dengan domisili Pekanbaru. Itu berarti saya mesti balik ke Pekanbaru dulu untuk mengurus KTP baru. Beberapa hari sebelum ke Pekanbaru, saya sudah mengirim salinan surat keterangan hilang ke rumah untuk diuruskan ke kelurahan sehingga saat saya tiba di Pekanbaru nanti tidak memakan waktu yang lama. Begitu saya mendarat di Pekanbaru, saya langsung ke kecamatan untuk berfoto. Petugas di sana memberi tahu saya kalau proses pembuatan KTP akan memakan waktu sekitar sebulan dan apabila telah selesai, akan diberitahukan melalui sms dan untuk sementara, sebagai penanda identitas, saya diberi secarik kertas tanda saya sedang mengurus KTP.

Sebulan berlalu dan sms pemberitahuan itu masuk ke ponsel saya. Dan tahu apa yang saya dapat? Selembar kertas yang kalau tidak segera di-laminating akan lecek. Sungguh luar biasa sekali hasil penantian selama sebulan itu! Saya kehilangan sebuah e-KTP dan diganti dengan KTP yang mesti ditandatangani manual. Sedang kartu kredit yang krusial karena menyangkut keuangan serta sarat kecurangan saja, tiba di tangan saya dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Saya makin bertanya-tanya, e-KTP itu fungsinya apa sih? Apakah benar mengandung sesuatu yang ‘elektronik’? Mestinya begitu mereka (petugas kelurahan ataupun kecamatan) menerima laporan saya dan mencocokkan data diri antara database (kalau punya) dengan KK, takkan memakan waktu yang lama. Baiklah, mungkin ekspektasi saya yang berlebihan; mengira kita cukup canggih.

***

Terus terang saya bahagia hari ini karena libur, bukan karena saya dapat berpartisipasi dalam pemilihan calon legislatif (caleg). Bukan saya ingin menjadi golongan putih (golput), namun karena sistem memaksa saya untuk tidak dapat ikut serta. Dari social media, beredar ‘sosialisasi’ yang mengatakan bahwa orang-orang seperti saya bisa ikut PEMILU. Cukup datang membawa kartu identitas diri.

Not that easy, dude..

Namun kenyataannya? Silakan kamu tanyakan kepada mahasiswa-mahasiwa perantau karena sistemnya tak sesederhana itu; yang padahal setiap individu punya NIK (yang mestinya unik) bahkan sejak kita belum memiliki KTP (karena tertera di KK) dan IDEALnya e-KTP cukup untuk menjadi syarat untuk DPK tambahan.

8 April 2014

You're Not A Tree, K



Hari ini resmi satu minggu saya menempati lokasi kantor yang baru, dimana pagi ini adalah kali pertama saya terlambat tiba. Kantor saya dulunya berada di kawasan Kuningan, kini berpindah ke kawasan Kelapa Gading. Ya, jarak tempuh yang mesti saya lewati tiap harinya menjadi bertambah. Dari 8 km menjadi 26 km (hitungan berdasarkan Google Maps). Belum lagi kepadatan jalanan yang mesti dilewati juga bertambah. Apalagi? Jam masuk kantor yang biasanya pukul 9 menjadi pukul 8.

*mbrebes mili*

Bagi saya pribadi, idealnya jarak antara rumah dan kantor tak lebih dari 10 km. Sedikit tambahan dari Joni lewat diskusi di twitter tempo hari, ”atau tidak lebih dari 30 menit berkendara”. Dihadapkan dengan kenyataan begini, saya pastinya terpikir untuk mencari kosan agar lebih dekat dengan kantor. Jadi menjelang pindah kantor, saya sudah mulai browsing kos-kosan.

Mengekos atau pergi-pulang?

Pilihan yang sulit. Ada banyak hal yang perlu saya pertimbangkan.

Mengekos
(+) Hemat waktu
(+) Bisa lari pagi dulu sebelum ngantor

(-) Pengeluaran tambahan untuk sewa kos
(-) Masih mesti ngangkot lagi
(-) Jauh kemana-mana (hidup saya tak sekadar antara rumah dan kantor. Banyak yang ingin saya lakukan di luar sana)

Pergi-pulang
(+) Kalau habis main, pulangnya ga jauh (ya namanya juga anak selatan)
(+) Ga keluar duit buat ngekos
(+) Apa-apa ada di rumah

(-) Jadi ga bisa lari pagi
(-) Betis pegel berjam-jam berdiri di dalam bus
(-) Sampai di rumah/kantor udah capek banget

Kurang lebih begitu dan setelah seminggu dilewati rasanya... huft’. Dari estimasi saya, mestinya pukul 6 saya sudah berangkat. Namun, di hari pertama saya malah terbangun di pukul 6. Kali itu saya bergegas mandi tanpa keramas dan memutuskan untuk naik bus dari Bunderan Slipi. Setelah setengah jam menunggu dan tidak ada tanda-tanda bus yang saya nanti itu akan lewat, saya memutuskan naik taksi. Dan tadaaa.. waktu tempuh yang diperlukan hanya setengah jam untuk sampai kantor! Sempat terpikirkan oleh saya untuk kursus menyetir agar diperbolehkan membawa mobil. Tapi kemudian saya tersadar, apa guna saya menjadi vegetarian dan koar-koar soal green living kalau saya malah menambah carbon footprint? *bathin seorang kelas menengah ngehe*

Pulang kantor hari pertama, saya mencoba satu nomor bus yang berbeda dari yang paginya saya ingin naiki. Dasar bebal, saya tidak mengacuhkan saran seorang teman dan tetap menjalankan rencana saya. Kalau diceritakan akan sangat panjang, yang intinya sore itu saya menghabiskan waktu 3 jam di dalam perjalanan.

Setelah berbagai trial and error, akhirnya saya menemukan kombinasi transportasi umum yang rada manusiawi (ukuran Jakarta) untuk rute rumah-kantor-rumah. Eh sebentar, total perjalanan 4-4,5 jam PP itu manusiawi, kan? HAHAHAHAHAHAAA saya ga bercanda, kok. Ya abis, tempat main saya mayoritas di Jaksel. Agenda lari malam di GBK juga ga bisa diabaikan, karena tahun ini banyak race ’serius’ yang akan saya ikuti dan butuh latian yang tidak hanya sekadarnya.

Kemudian saya menemukan quote di pinterest yang berbunyi: ”If you don’t like where you are, move. You’re not a tree.” Lalu saya berpikir untuk mulai mencari pekerjaan baru. Kemudian berkhayal, akan sangat menyenangkan ya, kalau bisa ketemu kantor yang pekerjaannya bisa dilakukan dari mana saja? Ke kantornya sesekali aja gitu. Ya ya ya, suruh bapak saya aja yang bikin kantor.

Baiklah. Jangan sampai jauhnya kantor mengganggu jadwal rutin lari. By the way, ada yang mau menawari saya kerjaan? Atau menawari jodoh?

#pffft

14 Maret 2014

Dikurung Asap



Bila pulang kampung bagi sebagian orang adalah hal yang sulit, saya sangat bersyukur karena hingga saat ini masih mendapat ‘jatah’ pesawat dengan rute Jakarta menuju Pekanbaru (dan sebaliknya) dari kantor bokap. Pelita Air Service, dengan pesawat Foker 100 melayani penerbangan setiap hari kecuali rabu dan sabtu. Ya walau ga selalu kebagian sih...

Kamis malam usai berlari di GBK, saya menunda untuk berkemas. Ah, cuma sebentar ini, pikir saya. Jumat pagi barulah saya memasukkan pakaian yang tak seberapa banyak itu ke dalam tas sambil terburu-buru karena mestinya pukul 8 saya sudah harus di bandara untuk go show (because I got lower priority than other passengers and are only located a seat after all passengers with more poins have been allocated seats). Karena bila menunggu taksi lewat akan memakan waktu yang lama, maka saya putuskan untuk naik ojek!



Hikmah tinggal di Indonesia, khususnya Jakarta; ada ojek di banyak pengkolan jalan yang menyelamatkan dari kemacetan.
 
Sesampainya di Bandara Halim Perdana Kusuma, ternyata bukan saya seorang yang go show. Untunglah banyak calon penumpang yang cancel sehingga kami semua yang go show mendapat seat!




Usai pesawat mendarat dengan mulus, saya dan penumpang lainnya bersiap-siap mengambil barang di kabin lalu mengantre untuk turun. Begitu saya berada di pintu pesawat, saya mencium bau yang tidak enak. Saya pikir itu bau yang dikeluarkan dari mesin pesawat. Setelah saya memandang keluar, ternyata kabut menyelimuti langit. Sambil menahan nafas, saya bergegas menuju bus yang akan membawa saya ke bangunan bandara. (Bandara SSQ sedang dalam renovasi sehingga dari gate menuju pesawat memiliki jarak yang cukup jauh dan pihak bandara menyediakan bus untuk mengantarkan penumpang dari dan ke pesawat.)

***

Karena poin saya yang rendah untuk kembali ke Jakarta di hari minggu, maka saya menguji peruntungan dengan go show lagi di hari senin. Suasana masih ramai saat saya tiba di bandara. Entah karena banyak karyawan yang dikirim training ke Pulau Jawa, maka banyak dari kami yang go show ini tidak dapat berangkat. Mestinya hari itu saya harus bekerja, namun karena tidak dapat pesawat sehingga saya kembali izin untuk tidak masuk. Karena tak enak harus berlama-lama izin, saya turun ke lantai di mana terdapat counter penjualan tiket.

Ternyata di sana sudah ramai dan antrian di beberapa counter sangat panjang. Dari hasil nguping saya, ternyata hari itu banyak penerbangan yang dibatalkan dan maskapai penerbangan itu menawarkan refund tiket. Memang di hari minggu saat saya ada urusan di luar rumah, kabut terasa makin pekat dan malamnya alat pengukur indeks kualitas udara di depan kantor walikota menunjukkan level ‘berbahaya’. Saya memutuskan untuk meninggalkan bandara, menuju travel agent langganan nyokap.


Penampakan kantor gubernur dari kejauhan


Sesampainya di sana, langsung saja saya memesan untuk keberangkatan hari selasa. Sebenarnya bisa saja saya membeli untuk penerbangan hari itu juga, namun hanya tersisa untuk penerbangan malam di kelas bisnis dengan harga nyaris dua juta dan bagi saya itu pricey. Baiklah, urusan tiket beres walau terpaksa menambah izin tidak masuk kantor lagi.

Malamnya, saya mendapat sms dari maskapai penerbangan yang saya pesan tadi mengabarkan bahwa tidak ada penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Jreeenggg!!!



***

Selasa pagi saya menelepon call center maskapai tersebut untuk konfirmasi dan mereka menyarankan untuk segera refund atau ganti jadwal. Karena tidak tahu entah sampai kapan tidak ada penerbangan, saya memutuskan untuk refund tiket.

***

Gambar diambil pada hari kamis pukul 10 pagi

Untung kameranya canggih, jadi masih rada kelihatan

Terkadang saya berpikiran bahwa tinggal di Riau, khususnya Pekanbaru (karena saya tidak tahu pasti bagaimana kondisi di kabupaten lain yang berkemungkinan beda), kita mesti jadi orang kaya. Tiap tahun selalu ada kebakaran hutan, sehingga perlu punya dana cadangan ekstra untuk kesehatan; untuk beli masker hingga biaya pengobatan bila terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Lalu tiap musim kemarau, pemadaman listrik tak terelakkan lagi karena kurangnya debit air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Pemadamannya tak pula sebentar, biasa terjadi belasan jam. Mau tak mau, karena kebutuhan akan pasokan listrik tinggi, kita mesti punya genset. Nah dengan kabut asap yang makin menggila ini, yang berada di dalam rumah saja terasa sesak, nyamannya memang bila memiliki AC. Kalau tak punya AC, minimal punya air purifyer.

Bandara ‘lumpuh’. Anak sekolah diliburkan. Di perusahaan tempat bokap kerja, anak dengan usia di bawah 1 tahun dan ibu hamil diungsikan. Puluhan ribu orang terkena ISPA. Porter, supir taksi, dan para pencari nafkah di bandara untuk sementara ‘kehilangan’ pekerjaannya. Saya sendiri tak enak mesti berlama-lama izin dari kantor karena tak bisa segera kembali ke Jakarta. Saya sudah usul untuk berangkat lewat jalur darat, tapi tak mendapat izin dari keluarga.

Rasa-rasanya mengutuk pun percuma. Kalau tak ada tindakan dari pemimpin negara. Ini sudah terjadi sejak lama. Dari jaman saya SD hingga menjadi sarjana.

 
Dan dari sekian banyak kegiatan yang terpaksa saya lewatkan, yang paling menyedihkan adalah: saya tidak bisa berlari seperti biasa! Padahal bulan ini saya ditantang untuk berlari dengan total jarak 300 km dalam 30 hari.



Karena mengeluh tiada berguna, maka akhirnya saya mengisi waktu dengan menghabiskan buku-buku yang belum sempat dibaca serta menikmati kebersamaan dengan teman dan keluarga. Terima kasih atas doa teman-teman di social media. Semoga kondisi Riau dan sekitarnya kembali baik seperti sedia kala. Semoga jarak pandang semakin jauh dan penerbangan kembali dibuka. Semoga yang sakit lekas sehat dan bersuka cita. Semoga yang zalim diampuni dosa-dosanya. Semoga!