Bila pulang kampung
bagi sebagian orang adalah hal yang sulit, saya sangat bersyukur karena hingga
saat ini masih mendapat ‘jatah’ pesawat dengan rute Jakarta menuju Pekanbaru
(dan sebaliknya) dari kantor bokap. Pelita Air Service, dengan pesawat Foker
100 melayani penerbangan setiap hari kecuali rabu dan sabtu. Ya walau ga selalu
kebagian sih...
Kamis malam usai
berlari di GBK, saya menunda untuk berkemas. Ah, cuma sebentar ini, pikir saya.
Jumat pagi barulah saya memasukkan pakaian yang tak seberapa banyak itu ke
dalam tas sambil terburu-buru karena mestinya pukul 8 saya sudah harus di
bandara untuk go show (because I got lower priority than other passengers and
are only located a seat after all passengers with more poins have been
allocated seats). Karena bila menunggu taksi lewat akan memakan waktu yang
lama, maka saya putuskan untuk naik ojek!
Hikmah tinggal di
Indonesia, khususnya Jakarta; ada ojek di banyak pengkolan jalan yang
menyelamatkan dari kemacetan.
Sesampainya di
Bandara Halim Perdana Kusuma, ternyata bukan saya seorang yang go show.
Untunglah banyak calon penumpang yang cancel sehingga kami semua yang go show mendapat
seat!
Usai pesawat mendarat
dengan mulus, saya dan penumpang lainnya bersiap-siap mengambil barang di kabin
lalu mengantre untuk turun. Begitu saya berada di pintu pesawat, saya mencium
bau yang tidak enak. Saya pikir itu bau yang dikeluarkan dari mesin pesawat.
Setelah saya memandang keluar, ternyata kabut menyelimuti langit. Sambil
menahan nafas, saya bergegas menuju bus yang akan membawa saya ke bangunan
bandara. (Bandara SSQ sedang dalam renovasi sehingga dari gate menuju pesawat
memiliki jarak yang cukup jauh dan pihak bandara menyediakan bus untuk
mengantarkan penumpang dari dan ke pesawat.)
***
Karena poin saya yang
rendah untuk kembali ke Jakarta di hari minggu, maka saya menguji peruntungan
dengan go show lagi di hari senin. Suasana masih ramai saat saya tiba di
bandara. Entah karena banyak karyawan yang dikirim training ke Pulau Jawa, maka
banyak dari kami yang go show ini tidak dapat berangkat. Mestinya hari itu saya
harus bekerja, namun karena tidak dapat pesawat sehingga saya kembali izin
untuk tidak masuk. Karena tak enak harus berlama-lama izin, saya turun ke
lantai di mana terdapat counter penjualan tiket.
Ternyata di sana
sudah ramai dan antrian di beberapa counter sangat panjang. Dari hasil nguping
saya, ternyata hari itu banyak penerbangan yang dibatalkan dan maskapai
penerbangan itu menawarkan refund tiket. Memang di hari minggu saat saya ada
urusan di luar rumah, kabut terasa makin pekat dan malamnya alat pengukur
indeks kualitas udara di depan kantor walikota menunjukkan level ‘berbahaya’. Saya
memutuskan untuk meninggalkan bandara, menuju travel agent langganan nyokap.
 |
| Penampakan kantor gubernur dari kejauhan |
Sesampainya di sana,
langsung saja saya memesan untuk keberangkatan hari selasa. Sebenarnya bisa
saja saya membeli untuk penerbangan hari itu juga, namun hanya tersisa untuk
penerbangan malam di kelas bisnis dengan harga nyaris dua juta dan bagi saya
itu pricey. Baiklah, urusan tiket beres walau terpaksa menambah izin tidak
masuk kantor lagi.
Malamnya, saya
mendapat sms dari maskapai penerbangan yang saya pesan tadi mengabarkan bahwa
tidak ada penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Jreeenggg!!!
***
Selasa pagi saya
menelepon call center maskapai tersebut untuk konfirmasi dan mereka
menyarankan untuk segera refund atau ganti jadwal. Karena tidak tahu entah
sampai kapan tidak ada penerbangan, saya memutuskan untuk refund tiket.
***
 |
| Gambar diambil pada hari kamis pukul 10 pagi |
 |
| Untung kameranya canggih, jadi masih rada kelihatan |
Terkadang saya
berpikiran bahwa tinggal di Riau, khususnya Pekanbaru (karena saya tidak tahu
pasti bagaimana kondisi di kabupaten lain yang berkemungkinan beda), kita mesti
jadi orang kaya. Tiap tahun selalu ada kebakaran hutan, sehingga perlu punya
dana cadangan ekstra untuk kesehatan; untuk beli masker hingga biaya pengobatan
bila terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Lalu tiap musim kemarau,
pemadaman listrik tak terelakkan lagi karena kurangnya debit air di Pembangkit
Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Pemadamannya tak pula sebentar, biasa
terjadi belasan jam. Mau tak mau, karena kebutuhan akan pasokan listrik tinggi,
kita mesti punya genset. Nah dengan kabut asap yang makin menggila ini, yang
berada di dalam rumah saja terasa sesak, nyamannya memang bila memiliki AC.
Kalau tak punya AC, minimal punya air purifyer.
Bandara ‘lumpuh’.
Anak sekolah diliburkan. Di perusahaan tempat bokap kerja, anak dengan usia di
bawah 1 tahun dan ibu hamil diungsikan. Puluhan ribu orang terkena ISPA.
Porter, supir taksi, dan para pencari nafkah di bandara untuk sementara
‘kehilangan’ pekerjaannya. Saya sendiri tak enak mesti berlama-lama izin dari
kantor karena tak bisa segera kembali ke Jakarta. Saya sudah usul untuk
berangkat lewat jalur darat, tapi tak mendapat izin dari keluarga.
Rasa-rasanya mengutuk
pun percuma. Kalau tak ada tindakan dari pemimpin negara. Ini sudah terjadi
sejak lama. Dari jaman saya SD hingga menjadi sarjana.
Dan dari sekian
banyak kegiatan yang terpaksa saya lewatkan, yang paling menyedihkan adalah:
saya tidak bisa berlari seperti biasa! Padahal bulan ini saya ditantang untuk
berlari dengan total jarak 300 km dalam 30 hari.
Karena mengeluh tiada
berguna, maka akhirnya saya mengisi waktu dengan menghabiskan buku-buku yang
belum sempat dibaca serta menikmati kebersamaan dengan teman dan keluarga.
Terima kasih atas doa teman-teman di social media. Semoga kondisi Riau dan
sekitarnya kembali baik seperti sedia kala. Semoga jarak pandang semakin jauh
dan penerbangan kembali dibuka. Semoga yang sakit lekas sehat dan bersuka cita.
Semoga yang zalim diampuni dosa-dosanya. Semoga!