I’m sad when people
blame my hobby as main factor of my failure in something they assume I’m good
at. Is that wrong if I do something unusual comparing with what my society did?
Well, I’m a God’s handmade.
Seminggu
kemarin rasanya tubuh saya melemah. Entah karena sering hujan-hujanan. Entah
karena deg-degan menjelang sidang tesis. Entah karena diterpa badai rindu
(halah). Tubuh bawaannya ingin tidur. Sementara tiap berhasil tidur, tak berapa
lama kemudian saya terbangun. Hasil tes tekanan darah selama dua hari juga
sangat rendah, sehingga saya ditolak untuk jadi pendonor darah. :(
Ada rasa sedih
saat dosen penguji menyatakan saya dan Dito, partner tesis saya, mesti sidang
ulang. Namun saya juga lega karena dengan demikian, saya punya waktu untuk
memaksimalkan karya (yang seharusnya membanggakan) itu. Keluar ruang sidang,
saya, Dito, dan Pak Robert (salah seorang dosen penguji hari itu) menuju
smoking area. Kami bercakap-cakap tentang bagaimana langkah yang mesti kami
lakukan, dan dalam hati saya pengin teriak ”tuh kan, gue bilang juga apa!”.
Jalanan Jakarta
yang macet seperti biasa membuat saya urung pulang. Untung saja kampus saya
terletak berdekatan dengan tiga mal, sehingga saya ga mati gaya menjelang lalu
lintas menyepi. Satu-satunya yang mendorong saya untuk kemudian pulang
adalah... belum packing dan revisi tulisan!
It’s an honor for
me.. when someone asked me to join travel story project. :D
Niat menuju
Bandung di siang hari menjadi molor ke sore hari. Langit tak bosan-bosannya menjatuhkan
titik-titik air, sedang playlist yang diputar di mobil sungguh syahdu:
beralbum-album lagu jaman saya SMA dulu. Beberapa kali seisi mobil bernyanyi
bersama. Beberapa kali juga tatapan saya menerawang entah kemana. Hingga
kemudian salah satu dari kami berseru agar saya tak mengikut cuaca: galau.
”Justru karena
aku galau, maka hujan turun,” pungkas saya.
Malam menjelang
dan akhirnya kami tiba di Bandung. Perut yang bergejolak menanti untuk diisi,
sedang soal penginapan masih belum terpikirkan. Menjelang makanan yang dipesan
terhidang, Vaza yang sedang gandrung memotret sibuk dengan kameranya. Sedang
Bang Benny diam-diam curi pandang ke makanan di meja sebelah. Beberapa saat
kemudian makanan datang dan semua senang!
![]() |
| Ready.. steady.. go! |
Berbekal
panduan dari gadget masa kini, usai makan kami meluncur ke guesthouse yang
diinapi ayah dan Bang Imam dengan harapan masih ada kamar kosong. Sayang, semua
kamar telah penuh. Saya sendiri sih ga peduli mau
ngemper di mana, asal ada air panas! Menjelang duo pea itu tiba di
penginapannya, kami memutuskan mencari penginapan di sekitar situ.
Perhentian
berikutnya adalah Wisma Tomat, yang pernah direkomendasikan oleh Nauvael. Sayang, sekamar tak bisa diisi lima orang sehingga
kami kembali ke guesthouse sambil menanti duo pea + Nauvael. Tak lama kemudian mereka datang sambil cengar-cengir
melihat kami yang berjongkok di tepi jalan.
Entah apa yang
dilakukan ayah saat masuk ke dalam guesthouse tadi, akhirnya kami mendapat
sebuah kamar yang sebenarnya tidak disewakan. Sabodo teuing! Yang penting bisa
segera istirahat. Karena tidak latihan cukup dan ditambah badan yang sedang
drop, maka saya memutuskan untuk segera tidur untuk mengembalikan tenaga.
Sekitar pukul
tiga saya terbangun, lalu kembali tidur. Lalu terbangun lagi setengah jam
berikutnya, lalu tidur lagi. Hingga akhirnya Bang Fadly membangunkan untuk
segera bergegas. Hoaaammm...
Sesampainya di
venue, saya, Qisty, Vaza, dan Bang Fadly segera mengantri untuk mengambil
racepack. Sambil melihat-lihat ke sekitar, saya mendapati wajah-wajah yang
terasa sangat familiar. Namun sebagai seorang introver, siapa yang kenal saya?
Beberapa saat
menjelang waktu start untuk kategori long course, akhirnya saya bertemu dengan
seorang teman yang dulu sering janjian lari sama saya di GBK. Setelah aba-aba
untuk mulai berlari diberikan, berhamburanlah para pelari dan saya ditinggal di
belakang oleh tiga lelaki itu.
Trek awal jelas
menyenangkan karena penurunan beralas aspal. Makin lama berlari, munculah
jalanan berbatu nan menanjak yang tampak ngeledekin pelari-pelari yang tadinya
super bersemangat. Karena musim penghujan, tanah-tanah menjadi licin dan becek.
Beberapa kali orang yang berada di depan saya terpeleset.
Di kilometer ke
enam, nyeri menjalar di telapak kaki kanan saya. Seorang perempuan duduk di
bebatuan yang tak jauh dari penanda jumlah kilometer dan tampaknya dia menyerah
karena seorang panitia tengah menghubungi rekannya untuk menjemput. Terpikir
oleh saya untuk menyerah. "Masa sudah berada sejauh ini saya mesti menyerah?" renung saya.
Tak ada
siapa-siapa lagi yang saya kenal di depan saya. Walau kepala mulai keliyengan
dan beberapa kali hampir terpeleset, saya melanjutkan langkah sambil sesekali
mengatur ritme nafas. Tanah dan rerumputan yang menempel di sepatu saya
memperberat langkah. Sambil melihat ke belakang, saya bersyukur bahwa masih
banyak yang tertinggal di belakang saya.
Entah di
kilometer ke berapa, ada pemandangan menarik di sebelah kiri saya: semangka dan
pepaya yang telah dipotong-potong. Warnanya yang menyala seolah
memanggil-manggil saya. “Cicipi aku! Cicipi aku!” Nyaris saja saya mengabaikan
tiga orang pelari dan seorang bapak tua yang berdiri di tepi jalur. Dengan
ingatan fotografis yang baik, saya merasa mengenal salah seorang pelari yang
kebetulan satu kategori dengan saya.
“Mbak yang ikut BukbeRUN, bukan?” tanya saya sambil menunjuk ke arahnya.“Iya. Adisiti,” jawabnya penuh keheranan sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
Setelah berbasa
basi sedikit, mereka meninggalkan saya yang sedang sibuk mengunyah. Beberapa
pelari sempat mampir dan berlalu meninggalkan saya dan bapak si penjual buah. Entah
karena melihat saya lahap mengunyah buah, melebihi monyet yang sedang
bergelantungan di depan saya, bapak si penjual buah kemudian berujar “Bapak teh
senang liat eneng makan. Tambah lagi, neng. Satu potongnya lima ratus aja buat
eneng.”
Kemudian saya
tersadar, sudah cukup lama saya nongkrong di sini. Kalau saya lebih lama lagi
di sini, bisa-bisa saya tak bisa lari karena perut yang kepenuhan. Saya
menyodorkan uang ke bapak penjual buah dan mengucap terima kasih, sambil
kemudian mulai berlari-lari kecil.
Saya tak peduli
lagi berapa kilometer lagi yang harus saya selesaikan.
When I run, I’ll
stop when I’m done.
Tahu-tahu saya
mendengar teriakan teman-teman saya di depan. Ah, sudah dekat rupanya dengan
gerbang finish. Walau rasanya fisik saya sudah benar-benar melemah, ajakan
mereka untuk berlari bersama menguatkan kaki saya.
***
“K, lagi galau ya?”“Emang kenapa, bang?”“Itu hujan turun lagi.”
***
Sebuah mention
di twitter mengagetkan saya pagi ini: saya masuk 20 besar untuk kategori Long
Course Female Open. Sesuatu yang tidak saya sangka. :)
Baiklah,
larangan untuk berlari tidak akan menghentikan saya. Bila dulu saya dilarang
menulis, lalu kemudian banyak orang mengapresiasi tulisan saya, kenapa untuk
lari saya tak bisa melakukan hal demikian?
Menjadi ‘amfibi’
itu melelahkan. Tapi lebih melelahkan lagi menghabiskan waktu untuk menyesal
karena tidak melakukan hal yang saya senangi. You only live once.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar