21 Januari 2014

Kembali ke 'Bawah Tanah'

I’m sad when people blame my hobby as main factor of my failure in something they assume I’m good at. Is that wrong if I do something unusual comparing with what my society did?
Well, I’m a God’s handmade.


Seminggu kemarin rasanya tubuh saya melemah. Entah karena sering hujan-hujanan. Entah karena deg-degan menjelang sidang tesis. Entah karena diterpa badai rindu (halah). Tubuh bawaannya ingin tidur. Sementara tiap berhasil tidur, tak berapa lama kemudian saya terbangun. Hasil tes tekanan darah selama dua hari juga sangat rendah, sehingga saya ditolak untuk jadi pendonor darah. :(

Ada rasa sedih saat dosen penguji menyatakan saya dan Dito, partner tesis saya, mesti sidang ulang. Namun saya juga lega karena dengan demikian, saya punya waktu untuk memaksimalkan karya (yang seharusnya membanggakan) itu. Keluar ruang sidang, saya, Dito, dan Pak Robert (salah seorang dosen penguji hari itu) menuju smoking area. Kami bercakap-cakap tentang bagaimana langkah yang mesti kami lakukan, dan dalam hati saya pengin teriak ”tuh kan, gue bilang juga apa!”.

Jalanan Jakarta yang macet seperti biasa membuat saya urung pulang. Untung saja kampus saya terletak berdekatan dengan tiga mal, sehingga saya ga mati gaya menjelang lalu lintas menyepi. Satu-satunya yang mendorong saya untuk kemudian pulang adalah... belum packing dan revisi tulisan!

It’s an honor for me.. when someone asked me to join travel story project. :D

Niat menuju Bandung di siang hari menjadi molor ke sore hari. Langit tak bosan-bosannya menjatuhkan titik-titik air, sedang playlist yang diputar di mobil sungguh syahdu: beralbum-album lagu jaman saya SMA dulu. Beberapa kali seisi mobil bernyanyi bersama. Beberapa kali juga tatapan saya menerawang entah kemana. Hingga kemudian salah satu dari kami berseru agar saya tak mengikut cuaca: galau.

”Justru karena aku galau, maka hujan turun,” pungkas saya.

Malam menjelang dan akhirnya kami tiba di Bandung. Perut yang bergejolak menanti untuk diisi, sedang soal penginapan masih belum terpikirkan. Menjelang makanan yang dipesan terhidang, Vaza yang sedang gandrung memotret sibuk dengan kameranya. Sedang Bang Benny diam-diam curi pandang ke makanan di meja sebelah. Beberapa saat kemudian makanan datang dan semua senang!


Ready.. steady.. go!

Berbekal panduan dari gadget masa kini, usai makan kami meluncur ke guesthouse yang diinapi ayah dan Bang Imam dengan harapan masih ada kamar kosong. Sayang, semua kamar telah penuh. Saya sendiri sih ga peduli mau ngemper di mana, asal ada air panas! Menjelang duo pea itu tiba di penginapannya, kami memutuskan mencari penginapan di sekitar situ.

Perhentian berikutnya adalah Wisma Tomat, yang pernah direkomendasikan oleh Nauvael. Sayang, sekamar tak bisa diisi lima orang sehingga kami kembali ke guesthouse sambil menanti duo pea + Nauvael. Tak lama kemudian mereka datang sambil cengar-cengir melihat kami yang berjongkok di tepi jalan.

Entah apa yang dilakukan ayah saat masuk ke dalam guesthouse tadi, akhirnya kami mendapat sebuah kamar yang sebenarnya tidak disewakan. Sabodo teuing! Yang penting bisa segera istirahat. Karena tidak latihan cukup dan ditambah badan yang sedang drop, maka saya memutuskan untuk segera tidur untuk mengembalikan tenaga.

Sekitar pukul tiga saya terbangun, lalu kembali tidur. Lalu terbangun lagi setengah jam berikutnya, lalu tidur lagi. Hingga akhirnya Bang Fadly membangunkan untuk segera bergegas. Hoaaammm...

Sesampainya di venue, saya, Qisty, Vaza, dan Bang Fadly segera mengantri untuk mengambil racepack. Sambil melihat-lihat ke sekitar, saya mendapati wajah-wajah yang terasa sangat familiar. Namun sebagai seorang introver, siapa yang kenal saya?

Beberapa saat menjelang waktu start untuk kategori long course, akhirnya saya bertemu dengan seorang teman yang dulu sering janjian lari sama saya di GBK. Setelah aba-aba untuk mulai berlari diberikan, berhamburanlah para pelari dan saya ditinggal di belakang oleh tiga lelaki itu.

Trek awal jelas menyenangkan karena penurunan beralas aspal. Makin lama berlari, munculah jalanan berbatu nan menanjak yang tampak ngeledekin pelari-pelari yang tadinya super bersemangat. Karena musim penghujan, tanah-tanah menjadi licin dan becek. Beberapa kali orang yang berada di depan saya terpeleset.



Di kilometer ke enam, nyeri menjalar di telapak kaki kanan saya. Seorang perempuan duduk di bebatuan yang tak jauh dari penanda jumlah kilometer dan tampaknya dia menyerah karena seorang panitia tengah menghubungi rekannya untuk menjemput. Terpikir oleh saya untuk menyerah. "Masa sudah berada sejauh ini saya mesti menyerah?" renung saya.

Tak ada siapa-siapa lagi yang saya kenal di depan saya. Walau kepala mulai keliyengan dan beberapa kali hampir terpeleset, saya melanjutkan langkah sambil sesekali mengatur ritme nafas. Tanah dan rerumputan yang menempel di sepatu saya memperberat langkah. Sambil melihat ke belakang, saya bersyukur bahwa masih banyak yang tertinggal di belakang saya.

Entah di kilometer ke berapa, ada pemandangan menarik di sebelah kiri saya: semangka dan pepaya yang telah dipotong-potong. Warnanya yang menyala seolah memanggil-manggil saya. “Cicipi aku! Cicipi aku!” Nyaris saja saya mengabaikan tiga orang pelari dan seorang bapak tua yang berdiri di tepi jalur. Dengan ingatan fotografis yang baik, saya merasa mengenal salah seorang pelari yang kebetulan satu kategori dengan saya.


“Mbak yang ikut BukbeRUN, bukan?” tanya saya sambil menunjuk ke arahnya.
“Iya. Adisiti,” jawabnya penuh keheranan sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Setelah berbasa basi sedikit, mereka meninggalkan saya yang sedang sibuk mengunyah. Beberapa pelari sempat mampir dan berlalu meninggalkan saya dan bapak si penjual buah. Entah karena melihat saya lahap mengunyah buah, melebihi monyet yang sedang bergelantungan di depan saya, bapak si penjual buah kemudian berujar “Bapak teh senang liat eneng makan. Tambah lagi, neng. Satu potongnya lima ratus aja buat eneng.”

Kemudian saya tersadar, sudah cukup lama saya nongkrong di sini. Kalau saya lebih lama lagi di sini, bisa-bisa saya tak bisa lari karena perut yang kepenuhan. Saya menyodorkan uang ke bapak penjual buah dan mengucap terima kasih, sambil kemudian mulai berlari-lari kecil.

Saya tak peduli lagi berapa kilometer lagi yang harus saya selesaikan.

When I run, I’ll stop when I’m done.

Tahu-tahu saya mendengar teriakan teman-teman saya di depan. Ah, sudah dekat rupanya dengan gerbang finish. Walau rasanya fisik saya sudah benar-benar melemah, ajakan mereka untuk berlari bersama menguatkan kaki saya.


***


“K, lagi galau ya?”
“Emang kenapa, bang?”
“Itu hujan turun lagi.”

***

Sebuah mention di twitter mengagetkan saya pagi ini: saya masuk 20 besar untuk kategori Long Course Female Open. Sesuatu yang tidak saya sangka. :)

Baiklah, larangan untuk berlari tidak akan menghentikan saya. Bila dulu saya dilarang menulis, lalu kemudian banyak orang mengapresiasi tulisan saya, kenapa untuk lari saya tak bisa melakukan hal demikian?

Menjadi ‘amfibi’ itu melelahkan. Tapi lebih melelahkan lagi menghabiskan waktu untuk menyesal karena tidak melakukan hal yang saya senangi. You only live once.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar