Entah kalian merasa kasihan atau senang melihat saya yang kini jarang
keluar malam (kecuali untuk hal yang penting-penting saja). Yang jelas, kini
saya kembali menjadi perempuan rumahan. Sebisa mungkin tiba di rumah sebelum
azan maghrib. Latihan menjadi working mom? Hm.. silakan berasumsi.
Dari habit baru ini, hikmahnya hidup saya jadi lebih teratur. Cukup tidur.
Karena saya tidur lebih awal dan bangun lebih pagi, sehingga punya waktu buat
mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci dan menyetrika, hingga lari dan
sarapan, sebelum berangkat ke kantor. Bosan? Beberapa kali ya, saya rasakan.
Untuk itulah kencan perlu dilakukan! Hahahahaaa..
Pagi selalu memberi ramai pada kesunyian saya, bahkan sebelum saya
melangkahkan kaki keluar rumah. Bising kendaraan bermotor serta klakson tak
mampu disaring tembok rumah yang tak jauh dari tepi jalan. Masuk ke dalam
angkot, kuping saya akan diperdengarkan dengan bermacam bunyi. Suara musik yang
diputar supir lewat audio player. Percakapan sekelompok karyawati yang hendak berangkat kerja. Ditambah
musik pengiring deru mesin kendaraan dan klakson-klakson ketergesaan. Kadang
juga umpatan si supir angkot. Seperti yang pagi ini saya (coba) nikmati.
Ga ada masalah kan, kalau saya berangkat dan pulang kerja menggunakan
angkutan umum?
Saya hanya membayangkan betapa sepinya pagi saya bila saya berangkat dengan
kendaraan pribadi. Saya harus fokus pada jalanan dan tak punya waktu untuk
memandangi alis-alis yang dicukur lalu digambari menyerupai alis oleh
perempuan-perempuan yang sering saya temui. Banyak percakapan-percakapan
tentang hidup yang lebih ’natural’ ketimbang sinetron-sinetron masa kini yang
temanya itu-itu saja. Atau sekadar bermenung dari balik jendela bus, menatap
kosong ke arah pedagang asongan yang silih berganti.
Tiap kali saya pulang kampung, seringnya hal-hal tadi yang bikin saya
merindukan Jakarta.
Pagi ini saya berangkat seperti biasa dengan jalanan yang macetnya luar
biasa. Dari depan rumah hingga Bunderan Slipi, saya tempuh dalam waktu lebih
dari satu jam. Sempat saya tweet-kan juga dan seorang teman menanggapi, ”Kenapa
ga lari aja? Kayaknya lebih cepat.”
Dipikir-pikir ada benarnya juga, secara jaraknya paling hanya empat
kilometer dan bila saya berlari, maka akan makan waktu tak sampai setengah jam.
Ya, begitulah jalanan di Jakarta. Jangankan berlari, berjalan saja saya susah
karena trotoar seringnya rusak atau sudah dipenuhi pedagang kaki lima. Belum
lagi yang menjadi area parkir tukang ojek, juga menjadi lintasan para
pengendara sepeda motor yang tidak berakal.
Kalau kata Melqi Goeslaw, Siapa Suruh Datang Jakarta?
Mungkin beberapa irama pagi punya makna masing-masing bagi yang mampu
menikmati. Bagi yang tak mampu? Silakan mengumpat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar