25 November 2013

Semacam Kejutan

Jauh dari hari sebelum kemarin, sungguh saya ingin menyaksikan dia bertanding mulai dari start dan menunggunya di garis finish. Mulailah saya mengontak beberapa teman yang mungkin dapat menemani. Namun sayang, tak seorangpun yang sedang lowong.

Rabu kemarin sibuklah saya melihat-lihat jadwal kereta serta harganya. Duh, nyesel banget ga beli dari kemarin-kemarin. Maklumlah, kota yang saya tuju tak pernah sepi peminatnya, apalagi di akhir pekan. Kalau mau berhemat dengan menaiki kereta ekonomi Matarmaja, mau ga mau saya harus berangkat kamis siang. Sementara selasa siang saya mendapat tawaran job yang briefing-nya di jumat sore. Setelah berpikir (agak) panjang, saya akhirnya membeli tiket kereta eksekutif Sembrani jurusan Gambir – Pasar Turi keberangkatan pukul 19.30 via situs resmi KAI seharga Rp. 477.000,00 (Rp. 450.000,00 untuk harga tiket dan Rp. 22.000,00 untuk biaya pelanggan karena bayar pakai kartu kredit). Karena kondisi keuangan yang memang sakaratul maut menjelang gajian, untuk kembali ke Jakarta, saya membeli tiket kereta ekonomi (yang kini ada AC dan colokan) Matarmaja jurusan Malang – Pasar Senen seharga Rp. 72.500,00 (Rp. 65.000,00 untuk harga tiket dan Rp. 12.500,00 untuk layanan pelanggan karena pembayaran via transfer bank, lalu mendapat potongan Rp. 5000,00 dari pihak tiket.com).

Baiklah, urusan tiket beres. Strategi untuk ‘kabur’ dari kantor juga udah diatur. Juga udah tanya-tanya ke beberapa teman mengenai rute dan alat transportasi untuk menuju ke sana. Walau belum tahu nanti akan menginap dimana.

Niat berkemas di kamis malam hanya tinggal niat. Jadilah saya putuskan untuk bangun lebih pagi di hari jumat karena usai briefing akan langsung ke stasiun dan berangkat ke kantor sambil menggendong ransel.

Load kerjaan yang lagi banyak-banyaknya udah saya cicil dari hari kamis, ternyata hingga jumat siang masih belum kelar. Dan saya meninggalkan kantor usai makan siang karena untuk mencetak tiket minimal satu jam sebelum keberangkatan sehingga takut tak keburu bila mencetak usai briefing. Sayangnya, saya dihadapkan dengan kekecewaan (atas alasan paling konyol sedunia). Walau keberangkatan kereta masih dua setengah jam lagi, saya memutuskan untuk kembali ke stasiun.

Karena kurang suka dengan makanan yang biasa ditawarkan di kereta, saya memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum berangkat di gerai Hoka-Hoka Bento (karena kondisi keuangan lagi pas-pasan, jadi hasrat ngopi mahal ditahan dulu). Agak galau juga, menerima sms terakhir darinya yang mengabari kalau ia naik jeep sendirian dan lalu tak bisa dihubungi.

Memasuki pukul setengah tujuh, saya beranjak menuju ruang tunggu. Ternyata setiap jumat malam ada acara “Hiburan Lagu-Lagu Koes Plus”. Lumayan mengusir kebengongan. Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara kalau kereta yang akan saya naiki telah tiba.




Setelah sekian lama tidak naik kereta eksekutif, akhirnya saya kembali merasakan kesenyapan kereta jenis ini. Ditambah lagi waktu tempuh yang lumayan lama (tak sedekat Jakarta-Bandung). Di kursi sebelah saya, seorang bapak sudah dengan nyaman dengan sandaran kursi yang telah diatur. Tenang, buku selalu menjadi senjata saya untuk anti-sosial sejenak. Ternyata bapak yang di sebelah saya ini pun juga telah siap dengan bukunya (dan lebih tebal dari milik saya).

Saya urung memainkan gadget agar hemat baterai (walau di kereta disediakan colokan). Sembari membaca, pikiran saya terus saja diusik tentang kabarnya. Iya, saya memang sering berlebihan. Saya mencoba tidur, tapi sulit. Padahal bapak di sebelah saya dengan mudahnya tidur pulas.

Menjelang pagi barulah saya bisa tertidur sebentar. Saya lirik jam di pergelangan tangan kanan. Hampir pukul enam. Berarti sekitar sejam lagi saya tiba di Surabaya. Saya gelisah. Bagaimana keadaannya dari terakhir mengontak saya hingga sekarang? Harusnya kini ia tengah mengusahakan salah satu cita-citanya. Saya memejamkan mata sambil berdoa dalam hati semoga ia selalu diberi kekuatan.

Kereta tiba di Surabaya telat dari yang seharusnya. Perjalanan kali ini benar-benar tanpa itinerary atau perencanaan apapun. Karena tidak bisa memperkirakan waktu kapan saya dapat sampai di tempat tujuan, saya bergegas keluar stasiun. Segerombolan supir taksi menawari untuk mengantar, namun saya tolak. Tak jauh dari situ, seorang bapak menghampiri, dan bertanya kemana tujuan saya. Masih dalam kondisi linglung, saya jawab “Probolinggo”. Bapak itu mengajukan diri untuk mengantarkan saya ke bus kota yang menuju Terminal Bungurasih dan tanpa rasa curiga, saya iyakan.


Salah satu sudut kota Surabaya


Kami berjalan ke gerbang di sisi kiri stasiun. Saya naik ke atas becaknya. Sungguh saya asing dengan tempat ini, namun saya coba nikmati pemandangan kota Surabaya pagi itu. Sang bapak pemilik becak mulai percakapan. Karena saya kikuk dengan bahasa Jawa, ia beralih menggunakan bahasa Indonesia. Tak lama kemudian tampaklah bus kota yang sedang ngetem tak jauh dari tol. Kami berhenti dan saya menanyakan berapa tarif becak. Dua puluh ribu rupiah, harga peluh kayuh pagi itu.

Selfie di atas becak

Tak semua kursi di bus kota itu terisi. Cukup mengeluarkan lima ribu rupiah, saya dapat sampai di terminal. Karena tidak tahu berapa lama perjalanan lagi yang harus saya tempuh, saya memutuskan untuk mengisi perut dulu. Terminal tak tampak ramai, dan sebuah tempat makan menarik minat saya. Saya memesan seporsi soto sulung dan sepiring nasi, serta menyomot sebuah bakwan. Baru saya tahu kalo ‘bakwan’ yang biasa disebut di Sumatera atau Jakarta, di sini disebut ‘ote-ote’. Sarapan yang cukup mahal bagi saya (yang seorang low budget traveler ini) karena saya harus mengeluarkan tiga puluh dua ribu dan itu tanpa memesan minuman (berasa makan di foodcourt mal).

Usai sarapan, saya sempatkan ke kamar kecil. Cukuplah pada trip yang lalu-lalu saya terpaksa menahan pipis selama perjalanan. Papan penunjuk rute di Terminal Bungurasih cukup jelas, sehingga mudah saja bagi saya menemukan bus PATAS AC menuju Probolinggo. Saya duduk di dekat jendela, sambil memangku ransel. Sementara tak lama kemudian ada seorang bapak duduk di sebelah saya. Setelah menanti sekitar dua puluh menit, bus perlahan bergerak meninggalkan terminal.

Jalanan terlihat lurus tanpa ada pemandangan yang menarik minat saya. Entah karena kurang tidur semalam, tak lama kemudian saya terlelap. Suara kondektur kemudian membuat saya terbangun. Saya lihat beberapa penumpang ada yang hendak turun. Saya kembali awas, takut kalau-kalau saya kelewatan terminal yang saya tuju. Tak lama kemudian bus yang saya naiki tiba di Terminal Probolinggo. Saya keluar, lalu menghampiri beberapa orang yang berdiri tak jauh dari barisan-barisan bus untuk bertanya dimana mobil yang bisa saya naiki untuk sampai ke Cemoro Lawang. Beberapa tukang ojek menghampiri, namun saya tolak karena tarifnya pasti mahal sekali. Akhirnya seorang bapak menunjukkan kepada saya arah tempat mobil yang biasa mengangkut penumpang ke Cemoro Lawang berhenti.

Sesampainya di jejeran mobil tersebut, ternyata sudah ada lima orang yang menanti. Pengendara mobil hanya mau jalan kalau sudah terkumpul lima belas orang, dengan alasan setoran sekali jalan harus Rp. 450.000,00. Di belakang saya tadi, mengekor dua orang laki-laki dengan tujuan sama. Jadilah terkumpul delapan orang. Karena hari beranjak siang, kami memutuskan untuk segera berangkat dan sharing sisa kursi yang harus dibayar. Dari harga normal Rp. 30.000,00 per orang, menjadi Rp. 55.000,00 per orang.

Waduh! Sisa uang tunai di dompet saya tak sampai seratus ribu. Kebiasaan di Jakarta terbawa saat traveling: tidak menyetok uang tunai yang banyak. Apalah arti semua kartu di dompet, pikir saya. Dari tiba di stasiun, saya tak menemukan ATM. Saya mulai memikirkan plan B, kalau-kalau sesuatu terjadi dan saya tak memiliki uang sepeserpun.

Mobil yang mulai beranjak, tak lama kemudian masuk ke area SPBU. Mata saya yang sedari tadi awas langsung girang ketika membaca tulisan ‘ATM’. Allah save me. Saat pak supir mengisi bahan bakar, saya izin ke ATM biar ga ditinggal. Amit-amit!

Mobil perlahan bergerak. Saya membuka kaca karena udara siang itu cukup panas, sementara mobil tidak dilengkapi AC. Di sebelah supir ada dua orang perempuan. Baris kedua diisi tas & ransel kami semua, sementara saya di baris ketiga duduk seorang diri. Di baris keempat duduklah dua orang yang tadi satu bus dengan saya, dan paling belakang ada tiga orang yang belakangan saya dengar, berasal dari Bandung. Sepanjang perjalanan, kami sibuk dengan pikiran masing-masing dan hanya ada deru mesin yang terdengar.

Jalanan yang dilewati makin lama makin mendaki, pertanda tempat yang kami tuju makin dekat. “Saya turun di Lava View ya, Pak,” ujar saya ke pak supir, mencegah ‘drama’ kesasar. Pak supir mengiyakan, lalu menanyakan penumpang lain mau diturunkan dimana. Selang beberapa waktu, mobil memasuki TNBTS. Dengan dua belas ribu, karcis sudah di tangan. Satu persatu penumpang diturunkan di tempat yang mereka mau, dan saya yang terakhir diturunkan.




Umbul-umbul dan penunjuk kegiatan lainnya bergoyang-goyang ditiup angin. Saya melangkah masuk ke area halaman hotel dengan kikuk, karena tak mengenal siapapun di sini. Lalu muncullah sosok Om Nefo. Sedikit berbasa-basi, eh saya malah digoda. Temen apa pacar..

Suasana hotel siang itu sepi. Hanya ada beberapa panitia yang berjaga di sekitar gerbang finish. Karena bosan, saya mengeluarkan kamera dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Lagi-lagi kepala saya berisikan dia. Sudah sampai dimana ya dia sekarang?

Saya kembali ngemper di teras restoran hotel, bersama beberapa orang yang tampaknya senasib dengan saya: menanti. Di sebelah saya, ada tiga orang finisher dari luar Indonesia yang sibuk berceloteh tentang trek yang baru saja mereka lewati, yang kemudian sibuk dengan handphone masing-masing. Saya sendiri kembali mengeluarkan ‘senjata anti-sosial’ untuk membunuh sepi.


Selonjoran dulu, rek!

Satu per satu peserta memasuki gerbang finish. Tiap mendengar suara tepuk tangan, saya beranjak untuk melihat siapa yang datang. Namun yang sedang saya tunggu tak kunjung keliatan batang hidungnya. Beberapa orang yang tadinya turut menunggu, menanyakan apakah yang saya tunggu sudah datang atau belum. Saya menggeleng, sembari dalam hati berdoa agar ia segera finish dan tanpa cedera.

Angka di timer yang dipasang di finish line menunjukkan bahwa sudah lebih sebelas jam dari waktu start peserta UBTS 50K. Tak lama kemudian, tepuk tangan diikuti teriakan ‘DUA RIBU SEPULUH’ menghadirkan senyum di wajah saya. Akhirnya! Saya beranjak sambil membawa kamera, menghampirinya. Seperti biasa, ia mampu menjaga ekspresi ‘ga kaget’ sambil bertanya mengapa saya di situ.

Kan aku udah bilang, bayangin aja aku ada di finish line, biar mas semangat larinya. Kalau ternyata aku di sini, berarti aku bukan cuma bayangan.

Saya memang tak tahu bagaimana perjuangannya, bagaimana rasanya berlari di sepatu yang ia pakai dan di trek yang ia lalui. Yang saya tahu, ia pasti kecapekan. Usai ia berfoto-foto dan ngobrol sebentar dengan beberapa peserta lainnya, kami diantar ojek ke homestay yang tak jauh dari hotel itu. Ditawari Rp. 150.000,00 untuk sebuah kamar per malam, kami putuskan untuk mengambil kamar itu karena terlalu lelah untuk mencari penginapan lain.

Kamar seukuran kira-kira 3 x 3 meter itu diisi dua dipan dan sebuah meja rias. Segala isi ransel digelar di atas kasur. Hari makin senja dan suhu makin dingin, namun ia memutuskan untuk mandi. Sementara saya yang terakhir kali mandi di jumat pagi, membatalkan niat buat keramas, walau kepala rasanya gatal sekali. Sekembalinya dari kamar mandi, ia menggigil. Saya balurkan minyak tawon ke kakinya, lalu ia minta dibelikan bakso. Di luar ternyata kabut mulai turun dalam wujud gerimis. Tak kuat melihat ia yang seharian belum makan, saya bergegas ke bawah. Ternyata hanya ada penjual gorengan. Saya belikan beberapa, tapi ia enggan makan.

Tak sadar kapan saya jatuh tertidur, tahu-tahu entah dipukul berapa, ia duduk di pinggir kasur membangunkan saya dan menyuruh makan. Karena masih setengah sadar, saya suruh ia habiskan makanan saya dan saya kembali tidur. Lagi, entah dipukul berapa pagi, ia kembali membangunkan saya sambil membawa semangkuk bakso. Kali ini saya benar-benar bangun karena dorongan perut yang kelaparan. Usai makan, saya ketiduran lagi.


Pemandangan dari balkon homestay

Di luar tampak terang, walau jam baru menunjukkan pukul lima. Karena tak tahu mau ngapain, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar penginapan. Sambil mengambil beberapa foto, kami menyusuri jalan menuju gerbang finish kemaren. Ah, saya senang bisa merasakan hangatnya mentari setelah dihantam dinginnya pegunungan semalaman.

Hari itu kami harus tiba di Malang, untuk kembali ke Jakarta. Setelah berkemas, kami berjalan ke arah mobil angkutan menuju Terminal Probolinggo. Ternyata sudah ada beberapa peserta kemarin yang menunggu penumpang cukup lima belas orang. Karena dikejar waktu, akhirnya kami berdua belas langsung berangkat dan ongkos sisa penumpang di-cover bersama.

Sesampainya di Terminal Probolinggo, kami berpencar. Saya, dia, dan dua orang lagi naik bus menuju Malang. Sementara yang lain ada yang menuju ke Surabaya, juga ke Banyuwangi. Saya mengambil kursi di dekat jendela. Tak lama bus melaju, ia ketiduran. Salah satu pemandangan yang saya senang pandangi.

Bus memasuki terminal (yang saya tidak tahu namanya, yang pasti di Kota Malang). Kami berempat turun, lalu berpencar. Dengan sisa tenaga di tengah rasa lapar, saya dan dia menuju Stasiun Malang dengan menaiki angkot. Setibanya di stasiun, kami menyisiri tepi jalan untuk mencari warung makan. Jatuhlah pikiran kami pada sebuah depot.

Kepala saya gatal dan butuh keramas, sementara ia ingin potong rambut. Usai makan, kami kembali menyusuri trotoar untuk mencari salon. Kata si pelayan di tempat makan tadi, tak jauh dari situ ada salon. Hampir tiba di persimpangan, akhirnya ketemu dengan salon itu. Karena tidak ada penunjuk daftar harga, saya buka sedikit pintunya dan bertanya berapa tarif potong rambut untuk laki-laki. ENAM PULUH RIBU. Saya ga salah dengar?

Akhirnya kami kembali ke stasiun sambil menunggu jadwal keberangkatan. Keretanya lebih dulu berangkat, sementara kereta yang akan saya naiki berangkat sejam setelahnya. Masih ada sekitar empat puluh menit menuju pukul tiga. Ia mengajak saya makan (lagi) dan langsung saya iyakan.

Kereta yang akan ia naiki sudah tiba. Ah, sudah harus berpisah kembali.

Mungkin baginya saya berlebihan. Terlalu memaksakan diri.
Untuknya, waktuku. Waktu untuknya.

Ia takkan bisa memikirkan mengapa aku begitu menyayanginya. Karena aku menyayanginya lebih dari apa yang ia pikirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar