Fiuh...
Tanpa terasa kita udah di bulan kedua terakhir menuju
2014. Masih banyak cita-cita yang belum kesampaian, namun alhamdulillah urusan
tesis tinggal menunggu jadwal sidang keluar. Walau rada plong, tetep aja urusan
di kantor malah makin padet. Ya namanya juga menjelang akhir tahun.
Sebagai anak muda yang kelewat aktif, saya punya
slogan “Jangan sampai kerjaan dan kuliah mengganggu acara jalan-jalan!” dan
bulan lalu saya baru saja mendaki Gunung Merbabu. Ceritanya panjang dan ada
beberapa “drama” yang terjadi. Yang pasti fun, kenyang (karena selama di Yogya
ditraktir mulu), dan kulit muka terbakar parah!
Pendakian kali kemaren ga ada persiapan khusus
sih, bahkan beberapa peralatan statusnya “pinjeman” dan hal penting malah
terlupakan: SUNBLOCK. Biar gunung itu hawanya dingin, justru kita seringnya ga
sadar dengan paparan sinar matahari yang lebih dekat dibanding biasanya.
Untunglah seorang teman membawa sunblock yang penggunaannya disemprotkan ke kulit
(kalau ga salah mereknya Beach Hut) dan sayangnya, efeknya bikin wajah saya yang
berminyak ini semakin oily.
Sekembalinya ke Yogya, kita pada berpencar dan
menghabiskan waktu dengan muter-muter kota Yogya. Dan Yogya hari itu panasnya
naudzubillah.. AC mobil ga mempan! Saya meleleh (literally). Karena ga mau menyia-nyiakan
waktu, semuanya pada bodo amat sama panasnya Kota Yogya. Mulailah kita nenen di
Kalimilk, lanjut ke Benteng Vrederburg. Sayangnya saat itu hari senin, jadi
tutup, dan setelah (berjemur) menunggu beberapa teman, kita lanjut berjalan
kaki dari Kantor Pos ke Taman Sari. Setelah foto-foto, kita langsung kembali ke
tempat tadi memarkirkan mobil karena keberangkatan kereta kembali ke Jakarta ga
bisa ditunda.
Sekembalinya ke Jakarta, barulah saya sadari:
tekstur kulit muka jadi kasar dan warnanya memerah. Kyaaa.. rasanya ga sanggup
lihat wajah sendiri. Butuh sekitar seminggu untuk mengembalikan kulit wajah
saya seperti sebelum berangkat. Karena kulit saya memang agak sensitif, jadinya
ga berani dimacem-macemin dan yang pasti.. ga mau lagi kena sengatan sinar matahari
tanpa sunblock. Jadilah saya berangkat ke kantor cuma dengan whitening day
cream-nya Wardah plus sunblock merek Parasol (warnanya & teksturnya mirip
foundation). Air putih itu wajib dan juga biar bibir ga kering, untuk
penggunaan harian saya pakai Maybeline Smoothing Cherry sebagai lip balm.
Saya bukan termasuk konsumen yang loyal atas
produk tertentu sih. Jadi isi meja rias saya terdiri dari banyak merek
kosmetik, baik lokal maupun internasional. Kalau sekali coba langsung ngerasa
cocok, biasanya saya stay di produk itu. Kalau pun ganti, biasanya atas
rekomendasi teman.
Untuk mencuci muka, pilihan saya jatuh ke Garnier
Light Facial Wash karena selain harganya murah, foam-nya lembut dan ga bikin
kulit kering. Sebelumnya saya pernah mencoba beberapa produk facial wash, namun
seringnya merasa ‘kurang foam’ atau bikin kulit jadi kering banget. Dan
gara-gara sunburn ini, saya jadi ga males-malesan lagi pake krim malam. Soalnya
biasanya kalau udah kecapekan pulang dari kantor, bisa langsung ketiduran di
atas kasur. Karena kesibukan, krim malam jadi andalan saya buat menjaga kulit
wajah biar terlihat segar. Sama seperti whitening day cream, untuk night cream
saya pakai produknya Wardah juga. Alhasil kulit yang terkena sunburn itu
perlahan-lahan mengelupas dan kondisi kulit wajah membaik.
Next trip ga lagi-lagi deh pakai acara kelupaan sunblock. Ah, ga sabar melompat ke Desember buat menikmati pantai-pantai di
Belitung!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar