Selamat tahun baru!
Saya yakin kalian semua punya banyak harapan baru
untuk diwujudkan di 2013. Pun saya, tak sabar melanjutkan mimpi-mimpi baru di
tahun ini.
Lama tak menulis di blog ini membuat isi hati saya
membuncah untuk segera menceritakan banyak hal kepada kalian. Saking banyaknya,
saya sempat bingung harus memulainya darimana.
Hm...
Bagi kebanyakan orang yang kenal dekat dengan
saya, mungkin reckless adalah sebuah kata yang cukup mewakili saya namun tak
dapat saya terima. Saya punya rasa takut! Dan rasa takut terbesar saya adalah
bangun dari tidur dalam keadaan tanpa passion dalam melakukan apapun. Laksana
robot.
Lakukan segala sesuatu dari hati... karena segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati akan sampai ke hati yang lain.
Hal itu yang selalu saya dengungkan ke teman-teman
yang punya semangat berkarya. Entah mereka musisi, penulis, atau komedian.
Karena bagi saya, melakukan sesuatu dari hati lah yang dapat membuat karya saya
bermakna.
2012.
Mungkin itu adalah tahun saya yang paling jauh
dari kata ‘makna’. Tidak banyak hal yang saya kerjakan walau ada beberapa
kejadian yang cukup penting. Sidang skripsi, jadi volunteer pada project “Indonesia
Bisa Stop HIV/AIDS” yang diselenggarakan AIESEC Local Committee Binus dan UI, Jawa
– Bali trip bersama mami, wisuda, sesaat menjadi ‘pegawai kantoran’, sesaat
menjadi ‘math tutor’, dan jatuh cinta.
Dan jatuh cinta yang membuat 2012 saya punya
makna.
Dan jatuh cinta yang membuat jari saya terus
mengetik.
*Sssttt... obrolan tentang cinta hanya akan ada di
blog sebelah.
Untuk orang yang susah diam seperti saya, tidak melakukan
apa-apa adalah sebuah musibah. Tidak latihan teater, tidak tampil menari, dan
tidak ada deklamasi puisi. Dan itu cukup bikin saya muak terhadap diri saya.
Tak mau berlama-lama dalam kemuakan, saya turut dalam sebuah komunitas backpacker
yang akan mengadakan #SemeruTrekking di akhir tahun. Kebetulan dari acara ini
setiap peserta diwajibkan menulis dan semua tulisan akan dikumpulkan dalam
sebuah travelogue.
Banyak memang ajakan tahun baruan yang lebih
menarik, namun menulis travelogue bersama cukup menggoda saya. Ditambah lagi
pendakian ini dilakukan bersama beberapa teman yang sudah saya kenal dan
sebelumnya saya belum pernah begitu mencintai gunung. Atuhlah kita berangkat!
Ada sebuah kegelian ketika orang mengira saya
tertarik ke Semeru karena film 5cm. Saya akui sinematografi film-nya bagus,
tapi bagi saya ceritanya biasa aja (ukuran cerita bagus bagi saya: keluar
bioskop dengan perasaan berbeda dari saat masuk bioskop). Bagaimanapun,
motivasi saya tak sedangkal itu.
Petualangan pun dimulai. Semua peserta dari
Jakarta berkumpul di Stasiun Senen karena perjalanan menuju Malang berlangsung
dengan KA Ekonomi Matarmaja selama lebih dari 15 jam. Mungkin buat beberapa
orang yang biasa menjalani hidup dengan fasilitas lengkap, ini adalah sebuah
penyiksaan. Namun buat saya, kereta ekonomi selalu menarik. Di situ saya
menemukan kehidupan, dan bukan di kereta eksekutif.
Kereta ekonomi selalu punya sejuta cerita. Dari
pandangan anak-anak penjual kipas sampai suara pedagang asongan yang lalu
lalang tak kenal waktu. Tentang penumpang yang tidur di lantai beralas kardus,
juga sepasang pemuda yang melontarkan banyak gurauan di pintu antar gerbong. Beberapa
musafir melaksanakan sholat sambil duduk, ada pula sekelompok backpacker yang
susah tidur kemudian menggelar matras di pangkuannya untuk bermain gaple.
Terinspirasi dari adegan Zafran dan Arinda di film
5cm, beberapa teman bangun pagi untuk dapat berfoto dengan latar badan kereta
dan persawahan. Beberapa penumpang yang tadinya mendiami pintu antar gerbong,
mau tak mau beranjak karena kehadiran kami.
| Yah, walaupun ga mirip sih.. |
Dan bersama para petualang, membunuh waktu pun
terhitung seni.
Kereta berakhir di Stasiun Malang. Sebelum
berangkat ke Tumpang, saya dan
teman-teman menyempatkan diri untuk mengisi perut.
| Ini namanya nasi pecel |
Karena acara pendakian ini melibatkan sekitar
50-an orang dari berbagai daerah, kami yang tiba duluan menanti yang lain di
Gedung Rakyat Tumpang dan bermalam di sana. Mumpung banyak waktu tanpa kegiatan
apapun, beberapa dari kami melengkapi logistik untuk pendakian (gedung rakyatnya dekat dengan pasar tradisional dan mini market) dan beberapa yang
lain berwisata kuliner (kebetulan harga makanan di sana murah; seporsi mie ayam
dihargai Rp. 3.500 saja).
Semua peserta dibagi ke dalam empat kelompok dan
berangkat ke Desa Ranu Pani dengan menggunakan jeep sewaan. Memasuki TNBTS (Taman
Nasional Bromo Tengger Semeru), udara semakin dingin, pandangan penuh kabut,
dan beberapa kali hujan turun. Sepanjang perjalanan tampak jurang-jurang, juga
kebun sayuran.
| Dan carrier pun dinaikkan ke atas jeep |
Ngetik itu capek juga ya...
Terlalu panjang untuk ditulis di sini tentang
petualangan saya mendaki Gunung Semeru. Semua setuju ya, untuk nanti saya
buatkan satu postingan khusus tentang itu. Atau nantikan travelogue-nya! :p
Neraka selama mendaki gunung bagi saya adalah...
tidak bisa keramas (karena ritual keramas saya lakukan tiap hari). Jangankan
keramas, mandi pun tidak (hanya mengelap tubuh dengan tisu basah). Jadi setelah
turun dan kembali ke Gedung Rakyat Tumpang, saya segera menyambar peralatan
mandi dan menyempatkan diri untuk keramas! Padahal waktu keberangkatan kereta sudah
mepet dan gara-gara saya, kita semua hampir telat tiba di stasiun. Untuk itu
saya sangat berterima kasih atas ketidaktepatan jadwal keberangkatan transportasi
di Indonesia yang membuat kami semua tidak ketinggalan kereta.
Sedihnya, banyak dari teman-teman baru saya yang
memutuskan untuk tidak langsung balik ke Jakarta sehingga kereta terasa begitu
sepi.
Akhirnya, kaki saya kembali menjejak di Jakarta di
2013. Sebuah perjalanan yang mendekatkan para petualang yang awalnya tak saling
kenal telah usai. Namun sebuah persaudaraan lahir, untuk kembali bersama-sama melangkahkan
kaki ke belahan bumi bagian entah.
Stasiun Senen, 3 Januari 2013.
Hidung saya kembali terbiasa mengendus aroma
Jakarta si Metropolutan. Mimpi-mimpi meronta minta diwujudkan. Selamat bekerja
keras, teman-teman. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar