18 Januari 2013

Kolam Dadakan

Seperti makhluk digital lainnya, hal yang pertama kali saya lakukan ketika bangun tidur adalah mengecek ponsel. Walau hitungannya masih pagi, namun kemarin saya bangun cukup telat dan mendapati isi grup bbm penuh dengan foto-foto banjir. Lanjut buka twitter, timeline dipenuhi info mengenai banjir.

Seorang ekspatriat yang 'menikmati' kolam dadakan di ibukota. Sumber: http://metro.news.viva.co.id/news/read/383142-gaya-turis-jerman--nikmati--banjir-di-thamrin

Bagi warga Jakarta, banjir bukanlah hal baru. Bahkan sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sejarahnya bisa dibaca di sini. Bila kita dapat menyebutnya fakta, kenapa bencana ini bisa terus berulang sih?

Pembiaran. Ya, saya pikir kita membiarkan bahwa banjir adalah sesuatu yang ‘wajar’ tanpa menggali lebih dalam mengenai apa yang kita bisa lakukan agar tidak terjadi lagi. Lucunya, tak seperti ketika macet, nyaris semua warga Jakarta tak ada yang protes. Apakah merasa banjir ini karena kelalaiannya sendiri?

Sebagai pendatang, dulu awalnya saya sempat bertanya-tanya apakah daerah yang akan saya tinggali ini bebas banjir karena lingkungannya jauh berbeda dengan daerah asal saya. Bila halaman rumah saya rimbun dengan tanaman, di Jakarta jarang saya temui rumah yang memiliki halaman dan ditanami pepohonan. Bagaimana tanahnya bisa menyerap air dengan baik? Bagaimana kualitas air tanahya? Bagaimana kualitas udaranya? Begitu pikir saya. Dengan kawasan rumah yang hampir semua permukaan tanahnya ditutupi bangunan, tidak ada ruang hijau, dan dekat dengan kali, awalnya saya sangsi. Tapi alhamdulillah, hingga saat ini wilayah saya aman dari banjir atau genangan air apapun.

Ada sedikit rasa geli ketika saya membaca orang-orang yang terus menuduhkan bahwa banjir disebabkan oleh beberapa pihak. Apakah benar-benar tidak ada yang bisa diri kita mulai lakukan? Karena saya meyakini bahwa segala perubahan hanya akan dapat terjadi bila kita mau upayakan. Penyebab banjir di Jakarta tak hanya satu, namun merupakan komplikasi dari beberapa penyebab. Bagi saya, daripada mengutuk lebih baik pelajari. Salah satunya di sini.

Dan besar harapan saya agar Pak Jokowi mau mengumpulkan para urbanist untuk perencanaan tata kota yang lebih baik, minimal mendengar pendapat para akademisi seperti ini.

Mungkin hal-hal berikut sangat sederhana, namun selalu saya coba terapkan dan saya yakin bila sejumlah besar orang yang melakukan, hasilnya akan signifikan.
  1. Buang sampah di tempat yang telah ditentukan. Hal yang tak pernah absen saya lakukan sejak di bangku TK. Bahkan acapkali orangtua saya mendapati sampah di dalam tas atau genggaman saya dalam jangka waktu yang lama, hanya karena saya tidak menemukan tong sampah.
  2. Diet kantong plastik. Memang sekarang sudah banyak kantong plastik degradable yang beredar, namun tetap saja butuh waktu bertahun-tahun untuk menguraikannya. Lantas, subtitusi dari kantong plastik apa? Tak jarang saya membawa kantong kain bila berbelanja. Kalau memang sedang tak membawa, usahakan agar kantong plastik yang kita dapatkan tadi tak hanya sekali pakai. Dan satu lagi, jangan bakar kantong plastik karena hasil pembakarannya dapat menjadi racun.
  3. Satu orang satu pohon. Apalagi buat yang punya halaman di rumahnya. Baiknya, pelajari dulu pohon apa yang dapat kalian tanam karena akar dari beberapa jenis pohon dapat merusak bangunan. Seorang teman ayah saya, bahkan menanam pohon di lahan tak terpakai di kantornya.

Sebenarnya banyak lagi hal yang dapat dilakukan dan telah disebutkan di beberapa link di atas. Mari pelajari dan mulai terapkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar