Kata hati.
Hari minggu kemarin, adalah kali pertama
saya bertemu dengan teman-teman dari Kelas Anggit. Sebuah kelas menulis. Iya,
menulis.
Saya tahu, ada beberapa orang di luar sana
yang menertawakan. Menulis? Yang benar saja!
Buat sebagian orang, menulis berarti
‘hidup’. Sebagian lain berpendapat, menulis hanyalah pekerjaan ‘orang media’
dan sebagainya. Dan bagi saya, menulis berarti ‘berjalan’. Karena ketika saya
hanya mampu membaca, saya merasa ‘pincang’.
Saya mengenal huruf di rentang umur 3-5
tahun. Saya senang membaca semenjak bisa membaca, terlebih karena nenek saya
yang guru di sebuah sekolah dasar sering membawakan buku-buku dari perpustakaan
sebagai bahan latihan baca. Biasanya terbitan Balai Pustaka. Ceritanya bisa berupa
dongeng, atau tentang kehidupan di desa. Kebetulan saya senang di rumah dan tak
punya banyak teman bermain.
Pernah ketika liburan di bulan puasa, saya
dan seorang teman berinisiatif membuat ‘perpustakaan mini’. Lokasinya di bawah
sebuah pohon bougenville di halaman rumah saya. Kami mengumpulkan koleksi
bacaan yang kami miliki. Dongeng, buku cerita petualangan, komik, majalah, dan sebagainya.
Siapapun boleh pinjam dan bawa pulang, asal dikembalikan tepat waktu. Bila
semua bacaan rasanya udah dibaca semua, saya sering titip minta dibeliin bacaan
di tukang loak tiap mami ke pasar. Namanya juga anak kecil, belum punya duit.
Gara-gara perpustakaan ini, liburan jadi tak membosankan. Jadi banyak teman
yang ke rumah.
Dan ketika jaman SD pula, saya membaca Majalah
Sagang yang dibawakan nenek saya. Di situ saya mengenal sastra. Mengenal rima.
Mengenal gurindam. Mengenal puisi. Dan hanya ‘membaca’.
Beranjak SMP, saya yang dengan duit jajan
pas-pasan ini lebih senang menyendiri ke perpustakaan daripada jajan ke kantin.
Entah itu membaca buku cerita, atau ensiklopedia.
Ketika SMA dan udah bisa menyisihkan duit
jajan, saya masih harus sembunyi-sembunyi membaca fiksi. Kata papi, “Ah, itu
hanya cerita khayalan saja. Buku pelajaran.. itu yang harus dibaca!”
Khayalan?
Kalau tidak berkhayal bahwa suatu hari
dunia diterangi oleh benda bernama ‘lampu’.. mungkin Thomas Alva Edison tak
pernah dikenal namanya.
Kalau tidak berkhayal bahwa suatu hari
kita bisa bercakap-cakap lintas benua.. tidak seorang dari kita di abad dua
satu mendengar nama Alexander Graham Bell.
Pupus. Saya tak pernah berani mengajukan
diri ingin kuliah di jurusan Sastra Perancis. Sudah tau pertanyaan apa yang
akan terlontar. “Mau jadi apa?”
Selama tiga setengah tahun saya menjalani
hidup yang entah apa. Syukurnya, di daerah kosan saya banyak rental bacaan.
Bila ada libur beberapa hari, saya sempatkan untuk pinjam beberapa. Rekor waktu
baca tercepat saya adalah Angel & Demons karangan Dan Brown. Versi
Indonesia-nya yang terdiri dari sekitar seribu halaman itu saya lahap dalam
waktu sehari.
Dengan jiwa yang sedemikian melankolis
ini, saya senang dihanyutkan berbagai cerita. Saya bisa tertawa terbahak ketika
membaca. Bisa menangis dan menghabiskan berlembar-lembar tisu seperti orang
yang baru diputusin sang kekasih. Bahkan bisa menahan nafas ketika tokoh utama
dalam cerita yang saya baca sedang diuber oleh musuh.
Namun, apakah saya akan terus ‘hanya’
membaca?
Dari twitter, saya bertemu banyak orang
keren. Mayoritas following saya kalo ga penulis, musisi, ya film maker. Ya,
bidang-bidang yang saya senangi. Twitter seperti jalan setapak bagi saya si
pengelana, yang membawa ke berbagai petualangan seru. Membawa saya bertemu
banyak pengalaman dan teman baru. Salah satunya, Kelas Anggit.
Kicauan dari akun Daeng @1bichara pada
suatu hari, mengundang saya untuk mendaftar. Ditambah lagi kak @NDIGUN yang juga
ikut nge-tweet tentang @kelasanggit, makin memantapkan niat saya.
Alhamdulillah, saya menjadi satu dari lima belas pilihan peserta, yang
jumlahnya memang sengaja dibatasi. Kelas sendiri akan dilaksanakan selama enam
bulan dan diadakan dua kali dalam sebulan.
Pada pertemuan perkenalan, sejujurnya saya
merasa rendah diri. Banyak di antara teman-teman yang tampaknya sudah jago
dalam menulis, bahkan menulis sudah menjadi bagian dari profesinya. Tapi tak
apa, saya ingin menjadikannya sebagai pecut agar saya bisa lebih baik lagi.
Saya tiba di rumah tepat ketika adek saya
sedang teleponan dengan mami. Sempat berbicara sebentar, dan pertanyaan “Dari
mana?” mengantarkan saya pada statement mami “Kelas menulis? Penulis kalo udah
bakat ya ga perlu belajar.” Saya sedih. Antara merasa ga berbakat, juga jalan
saya menuju ilmu yang saya senangi disepelekan. Namun saya percaya pada
‘proses’.
Dari pemikiran mami, saya jadi tergelitik
untuk bertanya “Kenapa saya harus dipenjara dalam sistem pendidikan selama dua
belas tahun dan ditambah kuliah, bila benar kenyataan ‘kalau sudah bakat maka
tak perlu belajar?’” Kalau begitu kan gampang, sedari kecil saya di tes bakat
saja. Lalu, menghidupi diri dari bidang
yang saya miliki bakatnya. Sudahlah, saya tidak pernah menyukai konfrontasi.
Ngomong-ngomong, saya dan dua rekan saya sedang mencoba peruntungan di dunia film (pendek). Bila semesta menghendaki dan IFDC menyukai premis yang saya ajukan, akhir pekan ini kami akan dimentorin oleh sutradara film beneran. Mohon doanya! Saya rindu menulis script film. :)
Ngomong-ngomong, saya dan dua rekan saya sedang mencoba peruntungan di dunia film (pendek). Bila semesta menghendaki dan IFDC menyukai premis yang saya ajukan, akhir pekan ini kami akan dimentorin oleh sutradara film beneran. Mohon doanya! Saya rindu menulis script film. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar