1 November 2012

Apa Lagi yang Kau Ikuti?

Kata hati.

Hari minggu kemarin, adalah kali pertama saya bertemu dengan teman-teman dari Kelas Anggit. Sebuah kelas menulis. Iya, menulis.

Saya tahu, ada beberapa orang di luar sana yang menertawakan. Menulis? Yang benar saja!

Buat sebagian orang, menulis berarti ‘hidup’. Sebagian lain berpendapat, menulis hanyalah pekerjaan ‘orang media’ dan sebagainya. Dan bagi saya, menulis berarti ‘berjalan’. Karena ketika saya hanya mampu membaca, saya merasa ‘pincang’.

Saya mengenal huruf di rentang umur 3-5 tahun. Saya senang membaca semenjak bisa membaca, terlebih karena nenek saya yang guru di sebuah sekolah dasar sering membawakan buku-buku dari perpustakaan sebagai bahan latihan baca. Biasanya terbitan Balai Pustaka. Ceritanya bisa berupa dongeng, atau tentang kehidupan di desa. Kebetulan saya senang di rumah dan tak punya banyak teman bermain.

Pernah ketika liburan di bulan puasa, saya dan seorang teman berinisiatif membuat ‘perpustakaan mini’. Lokasinya di bawah sebuah pohon bougenville di halaman rumah saya. Kami mengumpulkan koleksi bacaan yang kami miliki. Dongeng, buku cerita petualangan, komik, majalah, dan sebagainya. Siapapun boleh pinjam dan bawa pulang, asal dikembalikan tepat waktu. Bila semua bacaan rasanya udah dibaca semua, saya sering titip minta dibeliin bacaan di tukang loak tiap mami ke pasar. Namanya juga anak kecil, belum punya duit. Gara-gara perpustakaan ini, liburan jadi tak membosankan. Jadi banyak teman yang ke rumah.

Dan ketika jaman SD pula, saya membaca Majalah Sagang yang dibawakan nenek saya. Di situ saya mengenal sastra. Mengenal rima. Mengenal gurindam. Mengenal puisi. Dan hanya ‘membaca’.

Beranjak SMP, saya yang dengan duit jajan pas-pasan ini lebih senang menyendiri ke perpustakaan daripada jajan ke kantin. Entah itu membaca buku cerita, atau ensiklopedia.

Ketika SMA dan udah bisa menyisihkan duit jajan, saya masih harus sembunyi-sembunyi membaca fiksi. Kata papi, “Ah, itu hanya cerita khayalan saja. Buku pelajaran.. itu yang harus dibaca!”

Khayalan?

Kalau tidak berkhayal bahwa suatu hari dunia diterangi oleh benda bernama ‘lampu’.. mungkin Thomas Alva Edison tak pernah dikenal namanya.

Kalau tidak berkhayal bahwa suatu hari kita bisa bercakap-cakap lintas benua.. tidak seorang dari kita di abad dua satu mendengar nama Alexander Graham Bell.

Pupus. Saya tak pernah berani mengajukan diri ingin kuliah di jurusan Sastra Perancis. Sudah tau pertanyaan apa yang akan terlontar. “Mau jadi apa?”

Selama tiga setengah tahun saya menjalani hidup yang entah apa. Syukurnya, di daerah kosan saya banyak rental bacaan. Bila ada libur beberapa hari, saya sempatkan untuk pinjam beberapa. Rekor waktu baca tercepat saya adalah Angel & Demons karangan Dan Brown. Versi Indonesia-nya yang terdiri dari sekitar seribu halaman itu saya lahap dalam waktu sehari.

Dengan jiwa yang sedemikian melankolis ini, saya senang dihanyutkan berbagai cerita. Saya bisa tertawa terbahak ketika membaca. Bisa menangis dan menghabiskan berlembar-lembar tisu seperti orang yang baru diputusin sang kekasih. Bahkan bisa menahan nafas ketika tokoh utama dalam cerita yang saya baca sedang diuber oleh musuh.

Namun, apakah saya akan terus ‘hanya’ membaca?

Dari twitter, saya bertemu banyak orang keren. Mayoritas following saya kalo ga penulis, musisi, ya film maker. Ya, bidang-bidang yang saya senangi. Twitter seperti jalan setapak bagi saya si pengelana, yang membawa ke berbagai petualangan seru. Membawa saya bertemu banyak pengalaman dan teman baru. Salah satunya, Kelas Anggit.

Kicauan dari akun Daeng @1bichara pada suatu hari, mengundang saya untuk mendaftar. Ditambah lagi kak @NDIGUN yang juga ikut nge-tweet tentang @kelasanggit, makin memantapkan niat saya. Alhamdulillah, saya menjadi satu dari lima belas pilihan peserta, yang jumlahnya memang sengaja dibatasi. Kelas sendiri akan dilaksanakan selama enam bulan dan diadakan dua kali dalam sebulan.

Pada pertemuan perkenalan, sejujurnya saya merasa rendah diri. Banyak di antara teman-teman yang tampaknya sudah jago dalam menulis, bahkan menulis sudah menjadi bagian dari profesinya. Tapi tak apa, saya ingin menjadikannya sebagai pecut agar saya bisa lebih baik lagi.

Saya tiba di rumah tepat ketika adek saya sedang teleponan dengan mami. Sempat berbicara sebentar, dan pertanyaan “Dari mana?” mengantarkan saya pada statement mami “Kelas menulis? Penulis kalo udah bakat ya ga perlu belajar.” Saya sedih. Antara merasa ga berbakat, juga jalan saya menuju ilmu yang saya senangi disepelekan. Namun saya percaya pada ‘proses’.

Dari pemikiran mami, saya jadi tergelitik untuk bertanya “Kenapa saya harus dipenjara dalam sistem pendidikan selama dua belas tahun dan ditambah kuliah, bila benar kenyataan ‘kalau sudah bakat maka tak perlu belajar?’” Kalau begitu kan gampang, sedari kecil saya di tes bakat saja.  Lalu, menghidupi diri dari bidang yang saya miliki bakatnya. Sudahlah, saya tidak pernah menyukai konfrontasi. 

Ngomong-ngomong, saya dan dua rekan saya sedang mencoba peruntungan di dunia film (pendek). Bila semesta menghendaki dan IFDC menyukai premis yang saya ajukan, akhir pekan ini kami akan dimentorin oleh sutradara film beneran. Mohon doanya! Saya rindu menulis script film. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar