13 Juni 2012

Yakin Bahagia?


Terus terang saya risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan orang terus-menerus dan dari waktu ke waktu.

Waktu kecil:
“SD-nya dimana?”

“Dapat ranking berapa?” (umumnya bermaksud untuk ditanya balik biar bisa pamer)

“Masuk SMP mana jadinya?” (kalau ga masuk sekolah negeri populer, langsung di cap bodoh)

“Ooh.. udah SMA ya sekarang. Masuk IPA atau IPS?” (IPA dianggap WOW dan IPS dianggap anak pemalas. Jurusan bahasa diabaikan karena sekolah negeri unggulan ga punya jurusan ini)

“Keterima kuliah dimana? Ambil jurusan apa?” (stereotype yang berkembang adalah kalau ga masuk PTN berarti bodoh. Berani ambil jurusan yang ‘beda’, siap-siap dikasih rentetan pertanyaan berikutnya)

“Ooh.. udah wisuda ya? Sekarang kerja dimana?” (kalau ga masuk ke perusahaan multinasional, dianggap ‘IP’-nya pasti rendah. Kalau belum kerja pasti ditatap hina. Entrepreneur / freelancer belum diperhitungkan)

“Kapan nikah? Udah ada belum calonnya?”

“Udah nikah berapa lama? Udah ‘isi’ belum?”

“Anaknya udah berapa? Sekolah dimana?”

Dan seterusnya. Sampai punya cucu dan mati.

Hidup macam apa yang selama ini kalian lewati? Melakukan sesuatu agar ketika ditanyai orang, kalian sudah punya jawaban yang ‘membanggakan’? Biar ga dianggap ‘hina’ oleh orang-orang sekitar kalian?

Saya juga pernah mendengar cerita seorang teman, laki-laki. Ketika mau melamar ceweknya, ga dikasih sama orang tua si cewek hanya karena dia bukan ‘pegawai kantoran’. Padahal kalau dijumlahkan, penghasilan dia sebulan sekitar 3-4 kali gaji pegawai kantoran. Ckckck…

Saya geli akan feedback yang sering diberikan orang kepada saya. Ketika saya menulis sajak atau sesuatu yang puitis di twitter, saya dianggap ‘galau’. Saya ngelucu di twitter, dianggap lagi seneng. Pemikiran macam apa itu? Karena bagi saya twitter itu ajang melatih kreativitas.

Apakah sebuah masalah buat kalian, kalau saya masih single sampai sekarang?
Saya bisa melakukan segala sesuatu semau saya, tanpa mengganggu orang lain atau harus ijin sama ‘pacar’. Saya tidak harus kompromi dengan siapapun. Saya bebas kemanapun tanpa harus menunggu dan menggerutu ‘pacar’ yang telat jemput. Saya bisa mengembangkan kemampuan saya sepenuhnya. Saya bebas bergaul dengan siapapun. Sejauh ini saya bahagia.

Justru ‘galau’ itu saya ciptakan untuk menciptakan ‘karya’. Saya senang menulis puisi, lirik lagu, ataupun surat cinta. Saya menulis script film pendek perdana saya ketika sedang galau skripsi bersamaan dengan abis putus dari mantan.

Bagi saya, galau itu sumber potensi. Ada yang melihat ‘kegalauan’ saya sebagai keluhan? Tidak. Bahkan idola saya di twitter, Rahne Putri, baru saja ‘menetaskan’ buku perdananya hasil ‘eraman’ galaunya. Tahu band Kerispatih dong? Lagunya kalau didengerin berasa kayak mau mati besok kan? Tapi.. liriknya dahsyat!

Saya mau bertanya balik:

“Apa kalian benar-benar bahagia dengan yang kalian jalani?”

“Apa kalian sepenuhnya bahagia dengan pacar kalian?”

“Apa kalian bahagia dengan pekerjaan dan rutinitas yang kalian lakukan?”

“Apa jiwa kalian yang ‘stabil’ itu bisa menghasilkan karya?”

Ah, saya jadi teringat kata-katanya mbak Tika (vokalis Tika & The Dissidents) tempo hari kepada little monsters (sebutan untuk fans-nya Lady Gaga):

"Ketika kalian keluar dari ruangan ini dan dianggap gila oleh orang yang melihat.. biarin aja. Justru mereka yang gila. Mau aja kayak robot. Gayanya sama kayak manusia-manusia lain. Justru kalian harus bangga karena kalian berani beda."

Saya juga mau mengutip kata-katanya Buya Hamka:

“Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, monyet juga kerja.”

Saya ingin hidup sesuai standar saya, bukan standar yang orang beri. Saya melakukan apa yang saya ‘ingin’ lakukan, bukan apa yang ‘harus’ lakukan. Saya senang menjadi diri sendiri karena saya mencintai saya.

3 komentar:

  1. saya mau jawab pertanyaan anda:

    “Apa kalian benar-benar bahagia dengan yang kalian jalani?” -> selama saya bersyukur kepada Allah, saya bahagia.

    “Apa kalian sepenuhnya bahagia dengan pacar kalian?” -> ya, saya bahagia. hidup saya lebih lengkap karena kehadirannya. saya juga bisa bebas kemanapun dan bergaul dengan siapapun. karena kita saling percaya.

    “Apa kalian bahagia dengan pekerjaan dan rutinitas yang kalian lakukan?” -> bahagia atau tidak itu pilihan.

    “Apa jiwa kalian yang ‘stabil’ itu bisa menghasilkan karya?” -> apa sebuah karya itu hanya berbentuk tulisan, lagu? menurut saya, kerja seseorang, menghasilkan sesuatu yang berguna buat orang lain itu juga termasuk karya.

    IMO loh key :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih kaku aje lo, tik! X))

      Gue nulis ini sebenernya terinspirasi dari film pendek yang gue tonton semalem, juga dengan hal-hal yang gue lihat di sekitar. Gue prihatin banyak orang yang mengambil keputusan dalam hidupnya hanya karena 'pandangan' orang. Gue ga suka stereotype.

      Gue punya temen, yang udah pacaran bertahun-tahun. Pacarnya suka kasar dan main tangan. Tapi mereka masih pacaran aja, ntah karena sayang hubungannya udah lama / belum nemu pengganti / karena takut sendiri atau hal lain. Disini yang pengen gue sorotin adalah bahwa punya pacar itu ga jaminan seseorang bahagia.

      Banyak temen gue yang jadi pekerja, kemudian mengeluh. Padahal di luar sana, banyak orang yang jobless.

      Gue setuju dengan 'karya' yang lo maksud. Tapi ga setuju kalo setiap pekerjaan itu pasti menghasilkan karya. Gue ga bilang 'karya' itu hanya sebatas hal-hal yang gue sebut tadi.

      Benar bahwa kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Gue ingin menyampaikan ketidaksukaan gue atas stereotype yang diaminkan banyak orang, karena banyak anak muda di luar sana ga berani berkreasi hanya karena 'takut' di cap aneh/gila sama orang-orang. Gue pengen orang sadar bahwa menjadi diri sendiri itu lebih penting dari apapun, selama ga mengganggu orang tentunya.

      Hapus
    2. apanya yg kaku key? bahasa gue? kan gue ngikutin bahasa blog lo, biar matching :p

      Hapus