17 April 2014

Viralnya Sanksi Sosial

Beberapa hari ini media sosial riuh, mulai dari soal tulisannya ZH di tumblr dan dibalas tulisan oleh AD di midjournal, sampai soal si gadis Commuter Line. Baik di twitter maupun di path. Mungkin karena interest teman-teman di path saya terhadap politik tidak begitu tinggi, maka persoalan kedua lah yang menguak.
 

Segalanya bermula dari screen capture, yang entah dari siapa, wara-wiri di timeline twitter. Orang-orang mulai berang, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat kita. Saya sendiri dalam hati miris dan lalu berpikir, ”jangan-jangan masih banyak di antara kita yang belum kenal adab di transportasi umum.”

Men-judge bukan kapasitas saya. Maka di sini saya akan bercerita tentang pengalaman saya saja, dan dengan perspektif saya pribadi. Begini, saya turut memberi komentar karena saya pernah merasakan apa yang si gadis Commuter Line rasakan. Tsaaahhh...

Selisih setengah jam dengan gadis Commuter Line, saya berangkat pukul 05.30. Ongkos ojek dari rumah sekitar lima hingga sepuluh ribu, tapi saya memilih berjalan kaki menuju jalan besar yang dilewati angkot. Dari jalan besar itu menuju Stasiun Depok hanya satu kali naik angkot, namun jarak tempuhnya lebih dari satu jam dan ongkosnya enam ribu. Karena saat itu kantor saya di Jl. Prof. Dr. Satrio, maka saya turun di Stasiun Tebet (kadang juga di Stasiun Sudirman) dengan ongkos tiga ribu lima ratus, lalu menyambung angkot lagi dengan ongkos tiga ribu. Mengapa saya sebut berapa ongkosnya? Ya biar ada bayangan aja kira-kira itu seberapa jauh dan pukul berapa saya dapat tiba di stasiun.


Pengguna kendaraan umum jenis KRL Commuter Line ini saya rasa sudah mafhum dengan kondisi transportasi yang mereka tak punya pilihan lain ini; dengan kesering-terlambatannya. Terang saja begitu kereta datang, mereka langsung menghambur ke dalam walau isinya sudah berjubel manusia sampai-sampai pintu sulit ditutup. Penderitaannya akan terus berlanjut karena setelah berhasil masuk ke dalam, kita akan berdesak-desakan dengan penumpang yang masuk di stasiun berikutnya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara kaum yang mengecap pendidikan tinggi dengan yang tidak. (Hampir) semua sama beringasnya.

Sepanjang perjalanan, bersiaplah mengap-mengap karena AC maupun kipas angin tidak mampu menyediakan udara segar untuk seisi kereta. Kadang-kadang ada penumpang yang membuka jendela karena tak tahan lagi dengan pengapnya udara di dalam. Dorong-dorongan antar penumpang kala itu membuat saya terpaksa menahan badan agar tidak jatuh, dengan tangan yang menekan ke dinding kereta (iya, penumpang yang duduk saya ketiakin). Jadi bisa dibilang pengganti push up di pagi hari.

Dari apa yang saya dan banyak pekerja yang tinggal di (pinggiran) Jakarta alami, ya jelas banyak yang tak senang dengan ungkapan kebencian akan ibu hamil (yang dianggap menyusahkan). Mengutip perkataan teman saya yang laki-laki; ”Hamil itu kasus spesial. Harus dihormati. Perubahan hormon, perubahan fisik, ada sesuatu yang tumbuh di perut; menekan organ-organ di dalamnya, bikin mual dan sesak, serta rentan ancaman nyawa pada janin dan ibu ataupun ancaman perkembangan janin. Dan itu harus dialami 24 x 7 x 30 x 9. Laki-laki pun paham.






Dalam hal ini, warga di media sosial sukses menjadi kontrol sosial, yang walau sejujurnya saya anggap kebanyakan dari kita juga bersikap berlebihan. Beberapa juga malah dengan kreatifnya menjadikannya guyonan.


Dimaafkan ya, teman-teman..

1 komentar: