Beberapa hari ini media sosial riuh, mulai dari soal tulisannya
ZH di tumblr dan dibalas tulisan oleh AD di midjournal, sampai soal si gadis Commuter Line. Baik di twitter maupun di path. Mungkin
karena interest teman-teman di path saya terhadap politik tidak begitu tinggi,
maka persoalan kedua lah yang menguak.
Segalanya bermula dari screen capture, yang entah dari
siapa, wara-wiri di timeline twitter. Orang-orang mulai berang,
karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
kita. Saya sendiri dalam hati miris dan lalu berpikir, ”jangan-jangan masih
banyak di antara kita yang belum kenal adab di transportasi umum.”
Men-judge bukan kapasitas saya. Maka di sini saya akan
bercerita tentang pengalaman saya saja, dan dengan perspektif saya pribadi.
Begini, saya turut memberi komentar karena saya pernah merasakan apa yang si
gadis Commuter Line rasakan. Tsaaahhh...
Selisih setengah jam dengan gadis Commuter Line, saya
berangkat pukul 05.30. Ongkos ojek dari rumah sekitar lima hingga sepuluh ribu,
tapi saya memilih berjalan kaki menuju jalan besar yang dilewati angkot. Dari
jalan besar itu menuju Stasiun Depok hanya satu kali naik angkot, namun jarak
tempuhnya lebih dari satu jam dan ongkosnya enam ribu. Karena saat itu kantor
saya di Jl. Prof. Dr. Satrio, maka saya turun di Stasiun Tebet (kadang juga di
Stasiun Sudirman) dengan ongkos tiga ribu lima ratus, lalu menyambung angkot
lagi dengan ongkos tiga ribu. Mengapa saya sebut berapa ongkosnya? Ya biar ada
bayangan aja kira-kira itu seberapa jauh dan pukul berapa saya dapat tiba di
stasiun.
Pengguna kendaraan umum jenis KRL Commuter Line ini saya
rasa sudah mafhum dengan kondisi transportasi yang mereka tak punya pilihan
lain ini; dengan kesering-terlambatannya. Terang saja begitu kereta datang,
mereka langsung menghambur ke dalam walau isinya sudah berjubel manusia
sampai-sampai pintu sulit ditutup. Penderitaannya akan terus berlanjut karena
setelah berhasil masuk ke dalam, kita akan berdesak-desakan dengan penumpang
yang masuk di stasiun berikutnya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara kaum
yang mengecap pendidikan tinggi dengan yang tidak. (Hampir) semua sama
beringasnya.
Sepanjang perjalanan, bersiaplah mengap-mengap karena AC
maupun kipas angin tidak mampu menyediakan udara segar untuk seisi kereta.
Kadang-kadang ada penumpang yang membuka jendela karena tak tahan lagi dengan
pengapnya udara di dalam. Dorong-dorongan antar penumpang kala itu membuat saya
terpaksa menahan badan agar tidak jatuh, dengan tangan yang menekan ke dinding
kereta (iya, penumpang yang duduk saya ketiakin). Jadi bisa dibilang pengganti
push up di pagi hari.
Dari apa yang saya dan banyak pekerja yang tinggal di
(pinggiran) Jakarta alami, ya jelas banyak yang tak senang dengan ungkapan
kebencian akan ibu hamil (yang dianggap menyusahkan). Mengutip perkataan teman
saya yang laki-laki; ”Hamil itu kasus spesial. Harus dihormati. Perubahan
hormon, perubahan fisik, ada sesuatu yang tumbuh di perut; menekan organ-organ
di dalamnya, bikin mual dan sesak, serta rentan ancaman nyawa pada janin dan ibu
ataupun ancaman perkembangan janin. Dan itu harus dialami 24 x 7 x 30 x 9.
Laki-laki pun paham.”
Dalam hal ini, warga di media sosial sukses menjadi
kontrol sosial, yang walau sejujurnya saya anggap kebanyakan dari kita juga bersikap
berlebihan. Beberapa juga malah dengan kreatifnya menjadikannya guyonan.
Dimaafkan ya, teman-teman..







keren postinganya
BalasHapus