20 April 2012

Supir Angkot

Beberapa hari yang lalu, saya menaiki sebuah angkot dalam perjalanan pulang dari sebuah tempat. Dalam kondisi yang macet, tentu saja kendaraan roda empat maupun roda enam hanya bisa jalan beringsut. Ketika berada di lampu merah bunderan Slipi, terlihatlah seorang lelaki (maaf) cacat pada kakinya sehingga ia berjalan dengan bantuan tangannya. Sontak supir angkot yang saya tumpangi mengambil sejumlah uang, lalu melemparkan ke arah lelaki cacat tersebut. Lelaki tersebut tidak sedang mengemis. Ketika menerima uang tersebut, ia tersenyum kepada supir tersebut sembari mengucapkan terima kasih.
Saya sedih.
Sore itu di dalam angkot ada beberapa penumpang perempuan, tak lebih dari lima orang termasuk saya. Tak satupun dari kami yang berinisiatif menyumbangkan sejumlah harta yang dimiliki. Saya yang kebetulan duduk di belakang supir tersebut terenyuh. Si bapak ini, tentu harus kejar setoran. Tapi masih memikirkan nasib orang di sekitarnya.
“Kasihan, mbak,” ujar supir tersebut lewat kaca spion kepada saya. Dalam hati saya berujar, “semoga rejeki bapak berlimpah.” Bukannya saya tidak berniat memberi, hanya saja kala itu saya lagi tidak punya uang kecil. Uang besar pun tinggal selembar untuk sisa bulan yang masih beberapa hari lagi.
Dari supir angkot itu saya belajar, memberi ketika kita kesusahan itu merupakan sebuah kenikmatan. Dan sejak hari itu, saya bertekad untuk selalu menyediakan uang kecil di dompet bila mana nanti bertemu dengan orang yang mungkin membutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar