Beberapa
hari yang lalu, saya menaiki sebuah angkot dalam perjalanan pulang dari sebuah
tempat. Dalam kondisi yang macet, tentu saja kendaraan roda empat maupun roda
enam hanya bisa jalan beringsut. Ketika berada di lampu merah bunderan Slipi,
terlihatlah seorang lelaki (maaf) cacat pada kakinya sehingga ia berjalan
dengan bantuan tangannya. Sontak supir angkot yang saya tumpangi mengambil
sejumlah uang, lalu melemparkan ke arah lelaki cacat tersebut. Lelaki tersebut
tidak sedang mengemis. Ketika menerima uang tersebut, ia tersenyum kepada supir
tersebut sembari mengucapkan terima kasih.
Saya sedih.
Sore itu di
dalam angkot ada beberapa penumpang perempuan, tak lebih dari lima orang
termasuk saya. Tak satupun dari kami yang berinisiatif menyumbangkan sejumlah
harta yang dimiliki. Saya yang kebetulan duduk di belakang supir tersebut
terenyuh. Si bapak ini, tentu harus kejar setoran. Tapi masih memikirkan nasib
orang di sekitarnya.
“Kasihan,
mbak,” ujar supir tersebut lewat kaca spion kepada saya. Dalam hati saya
berujar, “semoga rejeki bapak berlimpah.” Bukannya saya tidak berniat memberi,
hanya saja kala itu saya lagi tidak punya uang kecil. Uang besar pun tinggal
selembar untuk sisa bulan yang masih beberapa hari lagi.
Dari supir angkot itu
saya belajar, memberi ketika kita kesusahan itu merupakan sebuah kenikmatan.
Dan sejak hari itu, saya bertekad untuk selalu menyediakan uang kecil di dompet
bila mana nanti bertemu dengan orang yang mungkin membutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar