4 Oktober 2010

Sungguh Saya Takut Sendiri!


Ini bukan judul lagu. Saya serius. Kalau berpendapat bahwa saya sedang galau, silahkan saja. Kalau mengira-ngira kalau ini masalah cowok, bukan.

Ga tau kenapa akhir-akhir ini saya suka mewek sendiri. TIba-tiba nangis tak tertahankan. Dan ga seorangpun yang saya butuhkan, ada di samping saya. Lebih dua tahun saya di negeri orang, baru kali ini kejadian seperti ini. Orang-orang yang selama ini saya anggap sahabat, tidak punya waktu lagi buat saya. Yah, mereka mendapatkan kehidupan yang baru dan tentu saja sahabat baru. Bahkan pacar baru. Sementara saya, tetap sendiri disini. Bahkan saya sempat berfikir, jika tiba-tiba saya mati di kamar kos... mungkin tak seorangpun yang tahu, apalagi peduli. Se-invisible itukah saya?

Saya tahu bahwa selama ini orang memandang saya adalah tipikal orang yang tenang, kuat, dan sabar.  Tapi ketahuilah itu hanya kedok saya. Saya rapuh. Emosional. Gampang marah. Dan saya menyimpan semuanya di dalam hati. Sampai semuanya benar-benar meledak. Lalu saya menjadi di luar kendali.

Entah seperti apa bentuk saya sehabis menangis. Sudahlah, percuma 'menyabarkan' saya. Saya manusia, dan semuanya terasa seperti 'pada batasnya'. Saya tidak bisa menahan lebih lama lagi!

Saya meledak, kemudian saya merasa tak berdaya. Nangis.

Seketika saya menyadari, saya benar-benar membutuhkan kedua orang tua saya. Saya akui bahwa selama ini saya terlalu cuek sama mereka. Saya tidak benar-benar dekat dengan mereka. Untuk berbasa-basi pun sulit.  Mencium pipi keduanya aja, belum pernah saya lakukan. Yang pasti, dalam hati saya sangat menyayangi mereka, sekesal apapun saya pada mereka. Dan slalu mendoakan mereka di setiap sholat saya. Dan saya sungguh menyesal belum membahagiakan mereka seperti dulu lagi.

Perihal masalah yang baru aja saya hadapi, mungkin saya benar-benar sedang kacau. Sudah teramat lama saya menahan. Mungkin Anda menganggap saya sensitif, terserah pandangan Anda. Saya hanya ga suka ungkapan saya dinyolotin, diketusin. Saya ga pernah menolak untuk dikritik kok, tapi Anda harusnya tahu kritik jenis apa. Saya tahu kok, mana yang serius, becandaan, atau serius lewat candaan. Dan ketika saya diam, saya mendapati bahwa kita memang berbeda level pemikiran. Kalau 'bacot' saya adalah pemikiran, maka bacot Anda adalah 'sumpah serapah' dan 'tuntutan'. Kita bisa lihat apa yang Anda mampu lakukan, yaitu menunggu orang lain melakukan. Sekalipun saya melakukan kesalahan, saya puas telah melihat kebodohan Anda.

Huhuhuu.. yah, saya memang tidak memerlukan orang seperti itu di dunia saya.

Selamat mengerjakan tugas kuliah!

1 komentar:

  1. Hey, I noticed art as one of your interests, I started a new art blog maybe u'll like it! Thanks and keep up great work.

    BalasHapus